Sekilas Info

Sidang MK Pilkada Halmahera Utara Ungkap Kisruh Pemilih di NHM

Hakim Konstitusi Enny Nurbaningsih memanggil para pihak yang berperkara untuk melakukan verifikasi data pemilih dalam sidang lanjutan perkara PHP Kepala Daerah untuk Kabupaten Halmahera Utara, Selasa (2/3). (Humas MK/Ifa)

Praktik Politik Uang

Dalam sidang tersebut, Pemohon menghadirkan Sahbudin M. Tjanaba yang merupakan pemilih di TPS 02 Desa Supu, Kecamatan Loloda Utara. Ia mengungkapkan mendapat tawaran uang sebesar Rp 350 ribu dari seseorang pada 8 Desember 2020 malam untuk memilih Pasangan Calon Nomor Urut 1 Frans Maneri–Muchlis Tapi Tapi (Pihak Terkait).

“Tiba-tiba ada orang yang mengeluarkan uang Rp350 ribu untuk meminta identitas saya. ‘Saya berikan uang 350 ribu dengan catatan, saya meminta identitas, Saudara’. Saya mengeluarkan KTP dan seseorang itu memoto KTP itu,” ungkapnya.

Usai kejadian tersebut, Sahbudin menyebut dirinya pulang dan menemukan ada delapan undangan memilih bagi anggota keluarganya —yang tiga di antaranya tidak berdomisili di Desa Supu. Tiga anggota keluarganya tersebut, yakni Suraya M. Tjanaba yang berdomisili di Sorong serta Nurkhalis M. Tjanaba dan Misnawati yang berdomisili di Ternate.

Ia pun mengungkapkan sebelum mencoblos, dirinya sempat melihat DPT yang tertempel. Dalam DPT tersebut, ia melihat beberapa nama tercantum meski bukan berdomisili di Desa Supu.

“Saya melihat nama Saidi Kicori yang berada di Halmahera Selatan dan Sarwan Tjanaba berada di tahanan di Polres Halmahera Utara,” ujarnya.

Selanjutnya, Sahbudin mengakui mencoblos Pasangan Calon Nomor Urut 1 Frans Maneri–Muchlis Tapi Tapi. Setelah mencoblos, ia pun melihat ke TPS 01 Desa Supu dan menemukan ada nama lain yang bukan berdomisili di Desa Supu, namun tertera dalam DPT.

“Zahid Libahome juga berada di tahanan Polres. Kisman Sania juga berada di tahanan Polres. Andri Cukai juga berada di tahanan Polres. Kemudian, La Ode Farli yang sudah meninggal dunia pada 2009,” ungkap Sahbudin.

Menanggapi kesaksian tersebut, Termohon yang diwakili oleh Hendra Kasim menegaskan DPT yang dilihat oleh Sahbudin.

“DPT yang Bapak lihat adalah DPT yang ditempel, bukan DPT yang ditandatangani ya?” tanyanya yang diakui Sahbudin bahwa DPT yang dilihat bukanlah DPT yang ditandatangani.

 

Selanjutnya 1 2 3
Penulis: Tim
Editor: Ika FR