Oleh: Asterlita T. Raha

Perempuan Loloda

 

ATAS dasar kesadaran sejarah (historical consciousness), kita perlu mempertanyakan kembali eksistensi wacana yang dijual di pasar kepentingan.

Tahun politik menjadi lahan subur tumbuhnya berbagai politisasi identitas. Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan (SARA) tak pernah luput dari strategi branding (citra politik) dan sebagai senjata jitu membunuh lawan di arena politik.

Termasuk “menjual Hibua Lamo” yang akhir-akhir ini memenuhi etalase demokrasi. Romantisme masa lalu ternyata masih digandrungi di era kontemporer ini. Sadar atau tidak cara berpolitik ini akan meninggalkan warisan (legacy) buruk bagi generasi selanjutnya.

Hibua Lamo bermetamorfosa menjadi simbol perdamaian atas segregasi konflik 1999-2000, dan terbangunlah kesadaran bersama (collective consciousness) atas peristiwa 19 April 2001 di Lapangan Ampera (Tobelo), dengan kesepakatan mengakhiri konflik dan tindak kekerasan 1999-2000. Tak hanya itu Hibua Lamo kini dijadikan alat untuk merebut kekuasaan dan secara bersamaan “Hibua Lamo” bisa kembali menjadi simbol yang menganeksasi suku bangsa lainnya.

Itulah mengapa, lika menggunakan logika deduktif maka frasa Hibua Lamo sangat cacat, timpang ketika mendefinisikan Halmahera Utara.  Apalagi menjadikan Hibua Lamo sebagai falsafah dan pusat pembangunan Halmahera Utara. Tak mengherankan jika Tobelosentrisme menjadi “ego” pembangunan yang pernah tercatat dalam tumbuh kembang Halmahera Utara. Menganaktirikan pembangunan Galela, Malifut, Kao Barat dan Loloda (Utara dan Kepulauan).

 

Asal Usul Hibua Lamo

Hibua Lamo merupakan rumah adat yang berasal dari suku Tobelo. Dalam bahasa Tobelo, Hibua berarti rumah, sedangkan Lamo berarti besar, sehingga secara harafiah Hibua Lamo dapat diartikan sebagai Rumah Besar. Menurut P.H. Lobiua berdasarkan cerita turun temurun dari para tetua, Hibua Lamo itu semula adalah Halu atau Rumah Kecil yang berlokasi di Gosoma (Sosiawati; 2017:44). Rumah adat Hibua Lamo didirikan sekitar 600 tahun yang lalu, namun hilang akibat penjajahan, kemudian didirikan kembali sebagai simbol perdamaian pasca konflik 1999-2000.

Cerita lainnya terdapat dalam publikasi  jurnal Filsafat Vol. 21, Nomor 1, April 2011 yang ditulis oleh Ricardo Freedom Nanuru. Bermula dari sembilan soa (soa: semacam klan atau kumpulan kekerabatan), bergerak meninggalkan daerah tempat tinggalnya di Talaga Lina menuju ke tempat yang menurut mereka lebih menjanjikan, dalam hal meningkatkan taraf hidup.  Lima dari sembilan soa pergi menuju ke arah Kao dan empat lainnya menuju arah Tobelo. Keempat Soa itu adalah Soa Lina, Soa Huboto, Soa Momulati dan Soa Gura. Kelompok yang berasal dari keempat soa itu menuju arah utara (O Koremie Uku: menuju arah angin utara) yang sekarang dikenal sebagai wilayah Tobelo. Sebagai wilayah ekspansi kerajaan Ternate, Sultan Ternate pun turut mengajak keempat soa untuk bersama membangun sebuah tempat bernaung  yang mampu menampung banyak orang. Berdasarkan hasil kesepakatan keempat soa, dibangunlah sebuah rumah besar yang dalam bahasa daerah biasa dikenal dengan Hibua Lamo. Di samping itu terbentuklah tata hidup, bahasa dan nilai dari suku Tobelo.