Tandaseru — Pala dan cengkeh merupakan kekayaan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah, budaya, ekonomi, dan ekologis penting bagi masyarakat Kota Tidore Kepulauan. Kedua komoditas rempah tersebut telah membentuk identitas wilayah sejak dahulu dan tidak dapat dipisahkan dari sejarah Maluku Utara.

Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Ahmad Laiman saat membuka kegiatan Forum Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Genetik Lintas Sektor di Ruang Rapat Wali Kota, Selasa (15/9/2026).

“Pala dan cengkeh adalah kekayaan warisan leluhur. Tanggung jawab kita memastikan kekayaan ini tidak hilang dan tetap bermanfaat bagi anak cucu. Mari jadikan forum ini momentum membangun sistem konservasi yang terintegrasi, berbasis masyarakat, ramah lingkungan, dan memberi manfaat ekonomi,” ujar Ahmad.

Ia menegaskan, konservasi terhadap kedua komoditas rempah ini harus dipandang sebagai investasi jangka panjang demi menjaga sumber penghidupan, lingkungan, serta warisan daerah. Ahmad juga berharap kegiatan ini melahirkan rencana aksi yang konkret dan berkesinambungan.

“Siapa melakukan apa, di mana lokasinya, bagaimana pendanaannya, serta bagaimana keberlanjutannya. Forum ini harus menghasilkan kesepakatan yang bisa kita implementasikan bersama,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, National Project Manager (NPM) proyek Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) Sudarsono menyampaikan alasan utama pentingnya pelestarian sumber daya genetik (SDG).

“Karena keberadaannya memiliki dampak yang sangat besar dan berkaitan langsung dengan kehidupan serta keberlangsungan alam,” jelas Sudarsono.

Sudarsono menambahkan, Indonesia memiliki keragaman SDG yang luar biasa, baik yang diminati pasar domestik maupun internasional, termasuk SDG yang selama ini dianggap sepele tetapi bernilai ekonomi tinggi di tingkat global. Khusus untuk wilayah Tidore, fokus utama proyek CDCSUI tertuju pada pala dan cengkeh.

“Kami hadir untuk bersama-sama membangun dan menjaga agar sumber daya genetik pala dan cengkeh tetap terpelihara, punya nilai ekonomi, dan bisa diwariskan ke generasi mendatang,” ungkap Sudarsono.

Acara pembukaan forum koordinasi ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kota Tidore Ismail Dukomalamo, Jo Jau Kesultanan Tidore Ishak Naser, Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Maluku Utara Warsita, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Taher Husain, serta para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter