Oleh: Nasarudin Amin

 ________

……Masihkah ada buku di rumah?” ini adalah pertanyaan Dr. Herman Oesman yang ia jadikan judul utama sebuah artikel yang diterbitkan oleh tandaseru, sebuah media daring pada 6 Juli 2026.

PERTANYAAN ini sangat sederhana, apalagi bagi yang sudah jarang membaca buku. Tapi bagi saya, pertanyaan ini memperlihatkan bagaimana seorang Doktor Sosiologi menyimpan kegelisahan yang jauh lebih besar dari pada furnitur atau tumpukan barang-barang mewah di etalase rumah. Saya kira Abang Her (begitu saya biasa menyapa) sedang menggugah peradaban kita hari ini, apakah pengetahuan masih diberi tempat, ataukah rumah kita telah beralih fungsi menjadi sekadar tempat peristirahatan tubuh tanpa ruang bagi pertumbuhan pikiran?

Tata ruang rumah moderen memberikan gambaran faktual tentang prioritas hidup kita. Di tengah banjir data yang melanda, manusia modern seringkali terjebak dalam “kekeringan makna” karena perhatian kita telah dialihkan menjadi komoditas industri digital. Transformasi ini sangat nyata pada perubahan fungsi ruang domestik.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rumah telah mengalami pergeseran menjadi media space, di mana telepon pintar, televisi digital, laptop, hingga perangkat pintar hadir di hampir setiap sudut kehidupan keluarga. Jika pada dekade sebelumnya televisi menjadi pusat aktivitas, penelitian dari Segijn dkk. (2017) menunjukkan bahwa kini hampir 60% rumah tangga melakukan multiscreening (menggunakan lebih dari satu layar secara bersamaan).

Hal ini diperkuat oleh temuan Harvey dkk. (2022) yang mencatat peningkatan tajam penggunaan telepon pintar secara global, yang secara perlahan menggantikan dominasi media konvensional. Di Indonesia, studi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) juga menyoroti bahwa perangkat digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas harian keluarga, baik di perkotaan maupun pedesaan.

Dominasi layar ini berbanding terbalik dengan hakikat sebuah buku. Logika industri digital dirancang untuk membuat manusia terus menggeser layar (scroll), sementara buku justru meminta kita untuk berhenti, duduk, diam, dan berpikir. Laporan State of Human Attention (2026) mengungkapkan bahwa waktu senggang manusia modern hampir selalu berubah menjadi waktu menatap layar, dengan rata-rata penggunaan mencapai lebih dari lima jam per hari. Akibatnya, buku kehilangan ruangnya bukan karena ia tidak lagi penting, tapi karena buku memerlukan perhatian yang mendalam dan kesabaran bagi pembacanya.

Tapi krisis literasi yang kita hadapi saat ini tidak boleh dilihat sebagai kegagalan pegiat literasi. Literasi itu urusan ekosistem. Kita sering kali abai bertanya mengapa harga buku bisa setara dengan kebutuhan makan beberapa hari atau mengapa perpustakaan daerah seringkali menjadi bangunan yang sunyi dan terabaikan. Ini karena seorang pembaca tumbuh karena ia melihat teladan di rumah, mendapatkan petualangan intelektual di sekolah, dan hidup di negara yang menganggap perpustakaan sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik. Tanpa dukungan ekosistem ini, buku hanya akan menjadi benda asing di rak-rak buku sendiri.

Dan ketika kemampuan untuk membaca secara mendalam melemah, maka kemampuan berpikir kritis masyarakat pun akan ikut melemah secara perlahan. Efeknya, masyarakat akan menjadi lebih mudah percaya pada opini daripada fakta, serta lebih menyukai slogan-slogan singkat dibandingkan argumentasi yang berbobot. Meskipun teknologi digital telah memperluas akses melalui buku elektronik dan perpustakaan daring, substansi utamanya tetaplah pada kemauan manusia untuk meluangkan waktu demi melatih kesabaran dan membangun keraguan yang sehat melalui proses membaca, sebagaimana perintah dalam teologi Islam, Iqra: bacalah.

Itu sebabnya, kemajuan teknologi bukanlah otoritas yang sepenuhnya harus disalahkan. Teknologi pada hakikatnya hanyalah alat, teknologi tidak pernah menentukan sistem sendiri bagaimana manusia menggunakannya. Persoalannya bukan pada kecanggihan layar atau kecerdasan buatan, melainkan pada cara kita menyikapinya. Di sinilah semangat “Iqro” (bacalah) menjadi sangat relevan sebagai landasan fundamental literasi. Semangat ini menegaskan bahwa sumber pengetahuan sejati tidak lahir dari banjir informasi, melainkan dari proses membaca yang tekun, kritis, dan konsisten.

Dalam tradisi berpikir, frasa retoris seperti afala ta’qilun (apakah kamu tidak menggunakan akal?) dan afala tatafakkarun (apakah kamu tidak memikirkan?) adalah frasa yang mempertanyakan status intelektualitas kita manusia. Karena itu, hakikat membaca adalah sarana melatih kesabaran, membangun kemampuan meragukan sesuatu secara sehat, serta belajar memahami dunia tanpa harus selalu menjadi pusatnya.

Sehingga tantangan kita ke depan adalah memastikan bahwa teknologi hanya akan menjadi jembatan yang memperluas akses pengetahuan, bukan tembok yang menjauhkan manusia dari tradisi intelektual. Selain itu, karena literasi adalah sebuah ekosistem, maka perlu dibangun sebuah kebiasaan membaca kritis. Sebagaimana yang sering diucapkan Bang Her, “seorang siswa tidak akan tumbuh sebagai pembaca hanya melalui instruksi. Siswa membutuhkan keteladanan visual di sekolah”. Dalam konteks ini, negara harus memberikan dukungan sistemik dengan menjadikan perpustakaan setara pentingnya dengan infrastruktur fisik.

Karena itu, sebuah rumah baru benar-benar menjadi hunian sejati bagi buku ketika ada “ruang” yang diwakafkan untuk dijadikan ruang membaca dan kontemplasi, sebab ketika isi buku bertransformasi menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, maka sesungguhnya kita sedang membangun peradaban kita sendiri. (*)