Tandaseru – Pameran Budaya bertajuk “Jejak Warisan Alfred Russel Wallace, Megadiversity dan Budaya Lokal Maluku Utara” yang digelar di Museum Alfred Russel Wallace (ARW), Kota Ternate, sukses dilaksanakan. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, sejak 1 hingga 5 Juli 2026, tersebut sukses menyedot perhatian ratusan pengunjung, baik dari dalam maupun luar Kota Ternate.
Kegiatan pameran ini merupakan program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) yang mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Maluku Utara Tahun Anggaran 2026.
Ketua Tim Kerja Kemitraan BPK Maluku Utara, Fauziah Rasid, menyampaikan harapannya agar antusiasme kunjungan ini mampu menginspirasi generasi muda, khususnya para pelajar, untuk lebih giat mengeksplorasi pengetahuan berbasis kekayaan alam dan budaya bangsa demi kemajuan sains masa depan.
“Selain itu, kegiatan ini diharapkan berdampak pada upaya pelestarian budaya lokal Maluku Utara sekaligus mendorong upaya konservasi dan revitalisasi situs-situs sejarah serta keanekaragaman hayati yang terkait dengan jejak Wallacea, termasuk jejak arkeologis situs rumah Wallace di Ternate,” ujar Fauziah.
Membangun Kebanggaan Kolektif
Harapan senada juga diungkapkan Penyelenggara Kegiatan, Nur Imaniar Naraya. Perempuan yang akrab disapa Niar ini menjelaskan, pameran ini membawa dampak psikologis (Pride of Place) untuk membangun rasa kepemilikan dan kebanggaan kolektif (sense of belonging) yang kuat di tengah masyarakat Maluku Utara.
“Mengubah persepsi dari wilayah pinggiran menjadi ‘Pusat Dunia’ (Center of the World) yang membuat para pengunjung, khususnya para pelajar, agar termotivasi untuk menjaga warisan leluhur dan identitas Moloku Kie Raha,” ungkap Niar di sela-sela pelaksanaan pameran.
Ragam Koleksi dan Edukasi Evolusi
Sementara itu, Kepala Museum AR. Wallace sekaligus Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Rinto Taib, memaparkan ratusan pengunjung yang memadati pameran terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari siswa SLTA Tamansiswa Kota Tidore Kepulauan yang didampingi guru, mahasiswa IAIN Ternate, mahasiswa Universitas Bumi Hijrah, hingga masyarakat umum.
Selama pameran, pengunjung disuguhkan berbagai peninggalan arkeologis yang berkaitan dengan keberadaan AR Wallace semasa di Ternate, literatur sejarah, foto-foto spesies burung endemik Maluku Utara, hingga deretan lukisan tematik Wallacea.
Menurut Rinto, pameran ini bukan sekadar ruang pajang, melainkan media edukasi penting bagi siswa untuk memahami keragaman hayati, spesimen, dinamika kehidupan, evolusi makhluk hidup, serta kemampuan adaptasi lingkungan.
“Hari ini bisa dikatakan sebagai momentum merayakan tidak hanya penemuan ilmiah dan wacana akademis semata, melainkan juga merayakan semangat rasa ingin tahu, konsistensi, kolaborasi, dan riset berbasis bukti yang terus menginspirasi para ilmuwan di seluruh dunia,” pungkas Rinto.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.