Tandaseru — Tantangan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan dan pelosok selalu berkaitan erat dengan dua isu klasik: jarak geografis dan keterbatasan infrastruktur. Kondisi tersebut juga terjadi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, yang memiliki tantangan tersendiri dalam distribusi pelayanan publik. Pelayanan kesehatan di wilayah pelosok kepulauan kerap kali berhadapan dengan tingginya risiko kerentanan masyarakat terhadap penyakit musiman, hingga pemenuhan gizi yang belum berjalan maksimal.

Selama ini, intervensi medis di tingkat desa seringkali terkendala oleh waktu tempuh yang lama menuju pusat kota kabupaten di Labuha maupun Puskesmas Induk. Bagi warga desa terpencil, urusan berobat bukan sekadar perkara menemui dokter, melainkan sebuah perjuangan mengarungi jalur laut dan membelah infrastruktur darat yang belum sepenuhnya mulus.

Kondisi inilah yang memicu urgensi hadirnya fasilitas pelayanan kesehatan memadai yang dekat, responsif, dan representatif di tingkat desa. Langkah ikhtiar melawan keterbatasan tersebut kini mulai menampakkan hasil melalui kolaborasi yang dibangun antara Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan dengan Harita Nickel.

Pustu Kawasi Jadi Solusi di Jantung Pemukiman

Menjawab kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang layak, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan mengambil langkah sinergis dengan Harita Nickel melalui pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Kawasi, Pulau Obi. Langkah ini menjadi titik tekan pemenuhan hak-hak dasar publik. Pustu Kawasi hadir bukan sekadar sebagai bangunan fisik baru, melainkan instrumen mitigasi kesehatan yang diletakkan tepat di tengah pemukiman warga.

Health and Education Supervisor Harita Nickel, Ragil Pardiantoro menegaskan, kehadiran Pustu yang dibangun pada tahun 2020 dan telah beroperasi secara resmi sejak tahun 2024 ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Kawasi terhadap akses kesehatan yang layak.

“Kami menempatkan tenaga medis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, seperti satu dokter umum, lima perawat, dan tiga orang bidan. Pelayanan seperti Posyandu untuk ibu dan anak, serta pengobatan penyakit, sudah berjalan dengan sangat baik sejak tahun 2024,” jelas Ragil.

Tak hanya itu, pemenuhan kebutuhan obat-obatan juga disediakan secara memadai. Dengan begitu, masyarakat di Desa Kawasi tidak perlu lagi menempuh perjalanan ekstrem demi mendapatkan perawatan kesehatan hingga ke pusat kota kabupaten maupun pusat kecamatan.

Kehadiran Pustu Kawasi tidak hanya berfokus pada pelayanan umum bagi masyarakat, melainkan juga menempatkan penanganan ibu dan anak sebagai skala prioritas. Guna memastikan seluruh pelayanan mengacu pada standar kelayakan medis, Pustu Kawasi menyediakan berbagai fasilitas klinis yang meliputi pelayanan umum dan konsultasi dokter, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan KB, tindakan medis darurat (emergency), serta pelayanan farmasi (apotek).

Harita Nickel meyakini bahwa keberadaan industri harus membawa manfaat yang nyata bagi masyarakat. Karena itu, bagi kami pembangunan sosial di Pulau Obi adalah bagian dari tanggung jawab untuk memastikan setiap keluarga memiliki akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan, dan peluang masa depan yang lebih baik,” ujar Ragil.

Manfaat dari kehadiran fasilitas Pustu Kawasi dirasakan langsung masyarakat. Salah seorang warga yang kini tinggal di Pemukiman Baru Desa Kawasi, Indah Dewi Siar, mengungkapkan keberadaan Pustu berhasil memangkas mata rantai hambatan geografis yang selama ini membatasi warga dari akses medis.

“Kami merasa sangat terbantu. Di Pustu Kawasi, kami mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang sama dengan yang kami dapatkan di tempat lainnya. Ini membuat kami tidak kesulitan lagi untuk berobat, termasuk dalam memeriksakan kesehatan anak-anak kami,” tuturnya.

Indah merasakan itu setelah melakukan USG yang kini sudah tersedia di Pustu Kawasi. Di mana, hal itu sebelum adanya Pustu hanya bisa dilakukan di Labuha.

Untuk USG kami bisa lakukan lewat Pustu, kalau dulu hanya bisa ke Labuha. Sudah sangat membantu kami,” pungkasnya.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter