Tandaseru — Bagi Alex Djangu, gunung api bukanlah sekadar latar foto yang indah, melainkan organisme raksasa yang harus “didengar” denyut nadinya. Sebagai pemandu wisata bersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), ia paham betul bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh keberuntungan, melainkan oleh observasi digital, visual, dan kepatuhan pada rekomendasi vulkanologi.
Ketenangan yang Menipu
Perjalanan Alex dimulai dengan kewaspadaan tinggi. Beberapa hari sebelum pendakian Gunung Api Dukono di kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Jumat (8/5/2026), Alex mendatangi kantor vulkanologi setempat untuk memantau aktivitas seismograf.
Data menunjukkan bukaan kawah mengarah ke Utara (jalur Mamuya). Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu—di mana arah angin berubah-ubah antara Selatan, Timur, dan Utara dalam hitungan jam—membuatnya sempat membatalkan rencana pendakian.
Baru pada 7 Mei 2026, saat Gunung Dukono tampak “bersih” tanpa asap, Alex memutuskan bergerak. Ia membawa tamu asal Jerman, berkemah di zona aman 4 km sesuai rekomendasi otoritas. Namun, bagi mata profesionalnya, hilangnya asap di puncak Dukono bukanlah pertanda baik.
“Ini aneh. Karakter Dukono tidak seperti ini. Ini berbahaya karena rupanya ada sumbatan pada dasar kawah dan tekanan besar sedang terkumpul,” ungkap Alex kepada tamunya saat itu.
Firasat dari Dasar Kawah
Kecurigaan Alex semakin menguat pada pukul 15.00 WIT. Suara gemuruh mirip banjir bandang terdengar, namun bukan berasal dari sungai, melainkan dari perut bumi. Ia menduga itu adalah aliran magma yang merayap naik ke permukaan.
Jumat, 8 Mei 2026, pukul 04.00 pagi, tim mulai mendekat hingga jarak 2 km untuk mengejar momentum matahari terbit. Di balik keindahan sunrise yang sempat ia abadikan, sebuah misi pengintaian dilakukan. Alex menerbangkan drone untuk melihat kondisi terkini kawah yang tak terjangkau sebelumnya.
Hasilnya mencengangkan: kawah Dukono telah dangkal. Tumpukan material menutupi dasarnya—diduga akibat longsoran dinding kawah atau desakan magma yang kian dekat ke bibir kawah.
Detik-detik Erupsi dan Gelombang Supersonik
Saat melakukan pantauan udara, Alex menyaksikan pemandangan kontras yang mengerikan. Di jalur Mamuya (Utara), kerumunan wisatawan terdengar riuh. Melalui layar drone, terlihat beberapa pendaki sudah sangat dekat dengan bibir kawah.
Ia bahkan sempat menangkap visual seorang wanita berkaos putih lengan panjang yang berlari di bawah kendali drone milik sekelompok pria yang diduga pembuat konten (content creator). Tanpa menyadari bahaya yang mengintai, mereka berada tepat di titik nol.
Sadar akan risiko “sumbatan” kawah yang bisa pecah kapan saja, Alex memutuskan segera turun dan menjauh ke zona yang lebih aman. Keputusan itu tepat.
Tepat pukul 07.42 WIT, sebuah dentuman keras memecah kesunyian. Gunung Dukono memuntahkan asap hitam pekat, percikan lahar cair, dan material batu, yang diiringi dengan hentakan gelombang supersonik.
“Dalam pikiran saya, mereka yang baru saja tiba di bibir kawah mungkin tidak ada yang selamat,” kenang Alex.
Namun, keajaiban terjadi. Kabar yang ia terima kemudian menyatakan banyak pendaki yang selamat, termasuk empat pendaki asal Gorua yang posisinya tak jauh dari tim Alex.
Setelah memastikan situasi terkini dan melaporkan pengamatannya kepada rekan sejawat serta pihak terkait, Alex dan tamunya turun dengan selamat.
Kisah ini menjadi pengingat keras bagi para pecinta alam dan pembuat konten. Gunung api adalah zona dinamis yang tidak bisa ditebak hanya dengan mata telanjang.
“Jangan ambil keputusan sebelum melakukan pengamatan yang matang. Gunung api itu berbahaya, tetap waspada,” pesan Alex bagi siapa saja yang ingin menantang jeram api Dukono.
Erupsi 8 Mei meninggalkan duka mendalam bagi dunia pariwisata Indonesia. Seorang pendaki Indonesia bernama Angel KP terkonfirmasi meninggal dunia. Sedangkan dua pendaki lainnya asal Singapura, Heng Wen Qiang Timothy dan Shahin Muhrez bin Abdul Hamid masih dalam pencarian.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.