Tandaseru – Suasana duka menyelimuti Desa Bobane Jaya, Kecamatan Patani Barat, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Seorang petani, Ali Abas (50 tahun), ditemukan tewas mengenaskan di area perkebunan miliknya, Kamis (2/4/2026) malam. Kejadian ini memperpanjang daftar teror oleh Orang Tak Dikenal (OTK) yang menghantui warga setempat.
Kronologi Penemuan Jasad
Informasi yang dihimpun, kecurigaan keluarga bermula saat korban tak kunjung kembali dari kebun hingga waktu Magrib. Berdasarkan keterangan warga, Ali dikenal sangat disiplin dan biasanya sudah berada di rumah sebelum waktu salat Ashar.
Keluarga bersama warga kemudian melakukan pencarian mandiri ke area kebun yang berjarak sekitar 3 kilometer dari permukiman. Di tengah perjalanan, warga dikejutkan dengan temuan ranjau tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu runcing di salah satu tanjakan menuju kebun. Perangkap tersebut diduga kuat sengaja dipasang sebagai bagian dari skenario pembunuhan berencana.
Jasad korban akhirnya ditemukan setelah Magrib dengan kondisi tubuh yang menunjukkan indikasi adanya tindak penyiksaan sebelum meninggal dunia.
Pada pukul 23.15 WIT, jenazah langsung dibawa ke puskesmas setempat untuk menjalani proses visum et repertum guna kepentingan penyelidikan.
Warga Desa Bobane Jaya kini menuntut kepolisian bertindak cepat dan transparan dalam mengungkap identitas pelaku. Warga mendesak adanya perlindungan nyata dari pemerintah dan aparat keamanan guna memutus rantai teror OTK yang terus berulang di wilayah tersebut.
Ancaman Berulang di Wilayah Halmahera
Sekretaris Komisi IV DPRD Provinsi Maluku Utara, Haryadi Ahmad, mengecam keras aksi dugaan pembunuhan keji terhadap Ali. Kejadian ini dinilai sebagai teror laten yang terus menghantui warga tanpa penyelesaian tuntas.
Haryadi menyatakan keprihatinan mendalam atas jatuhnya korban jiwa akibat serangan OTK. Ia menekankan, insiden di Patani Barat ini merupakan bagian dari rangkaian teror serupa yang kerap terjadi di wilayah hutan Halmahera Tengah dan Halmahera Timur.
“Ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya di Hutan Patani Barat dan wilayah hutan Halmahera Tengah lainnya, teror dari OTK sering kali memakan korban jiwa,” ujar Haryadi, Jumat (3/4/2026).
Politikus Partai Bulan Bintang (PBB) ini menilai pola serangan tersebut telah merusak sendi kehidupan warga, terutama para petani yang kini merasa terancam saat hendak mencari nafkah di hutan.
Desakan Penyisiran Hutan
Haryadi menegaskan, negara tidak boleh membiarkan teror ini menjadi hal yang lumrah. Ia mendesak pihak kepolisian, khususnya Polres Halmahera Tengah, segera melakukan tindakan nyata di lapangan guna memberikan kepastian hukum.
“Kami mendesak Polres Halteng segera melakukan penyisiran menyeluruh di dalam hutan. Pelaku harus ditemukan dan diproses hukum agar ada kepastian bagi keluarga korban serta rasa aman bagi warga sekitar,” tegasnya.
Selain langkah penindakan, Komisi IV DPRD Malut juga meminta pemerintah daerah dan aparat keamanan duduk bersama menyusun strategi keamanan jangka panjang. Hal ini dianggap mendesak guna memutus mata rantai teror di wilayah Halmahera agar masyarakat tidak terus-menerus dihantui ketakutan.
Sementara itu, Polres Halteng melalui Kasi Humas IPDA Amir Mahmud yang dikonfirmasi hingga kini belum memberikan keterangan resmi.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.