Oleh: Sitti Nurliani Khanazahrah, M.Ag
Penulis, Dosen, Pegiat Filsafat
_______
PETUAH bijak mengatakan kenalilah dirimu lalu hiduplah dengan sadar atas pilihanmu sendiri. Petuah yang terlihat remeh tetapi di dalamnya tersimpan seluruh drama kemanusiaan.
Pertama, kenalilah dirimu.
Socrates sudah mengingatkan sejak ribuan tahun lalu yaitu “gnōthi seauton” atau kenalilah dirimu. Tetapi mengenal diri bukan sekadar mengetahui nama dan gelar, profesi atau status sosial. Itu terlalu dangkal.
Mengenal diri juga berarti berani menatap ketakutan kita sendiri, mengakui ambisi yang secara diam-diam kita pelihara, atau memahami cinta yang kita klaim. Ia juga berarti jujur terhadap dorongan kuasa dan ilusi-ilusi yang sering kali kita anggap sebagai kebenaran.
Banyak di antara kita yang sesungguhnya tidak hidup dari dirinya. Ia hidup dari ketakutan yang tak pernah diakui. Dari kebutuhan akan validasi yang tak pernah selesai, atau dari tuntutan sosial yang terus mengejar. Lalu ia merasa telah memilih, padahal ia hanya bereaksi. Ia merasa menjadi subjek, padahal ia sedang digerakkan tanpa sadar.
Hemat saya, tanpa pengenalan diri, manusia akan mudah berubah menjadi alat-alat ideologi, alat-alat kekuasaan, alat tradisi bahkan alat emosinya sendiri. Ia tidak lagi otonom. Ia sekadar perpanjangan dari sesuatu yang tidak pernah ia periksa secara kritis.
Kedua, hiduplah dengan sadar atas pilihanmu.
Nietzsche pernah mengatakan, “jadilah dirimu sendiri.” Tetapi menjadi diri sendiri bukan berarti mengikuti semua keinginan secara impulsif. Itu bukan pembenaran bagi ego. Menjadi diri sendiri berarti berani menanggung konsekuensi dari pilihan yang kita buat. Ia menuntut kedewasaan dan bukan sekadar keberanian.
Sartre bahkan menyebut manusia sebagai makhluk yang “dikutuk untuk bebas”. Terdengar sangat keras tetapi di sanalah letak kenyataannya bahwa kita tidak bisa lari dari kebebasan untuk memilih. Bahkan ketika kita memilih secara diam-diam, tetap saja kita sedang memilih. Bahkan ketika kita menyerahkan keputusan pada orang lain, tetap saja kita sedang mengambil keputusan untuk menyerahkan.
Karenanya, nasihat tertinggi bukanlah “jadilah baik” atau “jadilah sukses”. Itu terlalu normatif dan sering kali abstrak. Yang lebih mendasar adalah “jangan hidup secara otomatis.” Hidup yang otomatis memang terasa nyaman karena ia tidak banyak menuntut refleksi. Ia hanya mengikuti arus, mengikuti kebiasaan dan mengikuti apa yang dianggap wajar. Tetapi kenyamanan itu sering kali berujung pada kekosongan.
Sebaliknya, hidup yang sadar memang terasa sangat berat karena ia menuntut pertanggungjawaban, menuntut keberanian untuk berbeda, bahkan menuntut kesediaan untuk salah. Namun demikian, justru di situlah makna bisa bertumbuh.
Ketiga, jangan kehilangan kedalaman batin.
Dalam zaman yang riuh ini, manusia begitu sibuk tampil. Ia selalu ingin terlihat. Selalu ingin diakui dan dikomentari. Begitu fasih berbicara tentang dunia dan politik, atau tentang moralitas orang lain. Tetapi ia begitu jarang bercakap dengan dirinya sendiri. Ia bahkan jarang duduk dalam keheningan dan tanpa distraksi.
Padahal kebijaksanaan tidak lahir dari keramaian.
Kebijaksanaan lahir dari keheningan yang jujur. Dari momen ketika seseorang berani bertanya pada dirinya seperti mengapa saya marah? Mengapa saya mencintai? Mengapa saya menginginkan ini? Karena tanpa kedalaman batin, manusia sungguh mudah terseret oleh permukaan seperti oleh citra, oleh opini, oleh reaksi sesaat.
Bagi saya, nasihat tertinggi bukanlah tentang harta, cinta, kuasa, atau reputasi. Semua itu bisa hadir dan bisa pula hilang. Yang tidak boleh hilang adalah kesadaran bahwa kita sedang hidup dan bahwa kita bertanggung jawab atas cara kita menjalaninya.
Sederhananya, jangan hidup tanpa refleksi dan jangan mencintai tanpa kesadaran. Sebab manusia yang tidak berefleksi berpotensi melukai orang lain tanpa ia sadari. Dan manusia yang tidak sadar akan cintanya mudah menjadikan cinta sebagai alat kepemilikan dan bukan sebagai ruang pertumbuhan. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.