Tandaseru – Tim Defense POW/MIA Accounting Agency (DPAA) Amerika Serikat menyerahkan temuan tulang belulang yang ditemukan di hutan Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, kepada Pemerintah Daerah setempat, Senin (26/1/2026). Temuan tersebut merupakan hasil identifikasi dalam misi pencarian kerangka prajurit tentara AS yang gugur pada Perang Dunia II.

Meskipun belum berhasil menemukan kerangka prajurit Amerika Serikat, tim justru menemukan kerangka manusia yang diidentifikasi sebagai warga lokal Morotai dari masa lampau.

Direktorat Kerja Sama Internasional Kementerian Pertahanan RI, Letkol Bayu Yuda, yang mendampingi tim DPAA menjelaskan bahwa kerangka tersebut diperkirakan berasal dari masa sekitar 1.000 tahun lalu.

“Dari hasil identifikasi, kerangka yang ditemukan merupakan warga lokal Morotai. Namun, di lokasi yang sama kami juga menemukan atribut yang diduga kuat milik identitas warga Jepang serta tulang belulang hewan,” jelas Bayu.

Temuan Beragam di Lokasi Pencarian

Selain kerangka warga lokal yang berusia ribuan tahun, tim juga melaporkan temuan lain di titik pencarian, antara lain:

• Kerangka anak-anak.

• Seragam dan identitas militer Jepang.

• Tulang-belulang binatang.

Misi pencarian ini merupakan kali ketiga yang dilakukan di Pulau Morotai sejak tahun 2025. Setelah ini, Tim DPAA dijadwalkan akan melanjutkan survei dan pencarian serupa ke wilayah Ambon dan Biak, Papua.

Disimpan di Museum untuk Edukasi

Wakil Bupati Pulau Morotai, Rio Christian Pawane, menyambut baik proses serah terima hasil temuan tersebut. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap misi internasional ini sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sejarah.

“Kami memandang ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan hubungan bilateral yang baik antara Indonesia dan Amerika Serikat. Pemerintah daerah akan terus memfasilitasi kegiatan ini agar berjalan lancar,” ujar Rio.

Terkait kerangka warga lokal yang ditemukan, Rio berencana menjadikannya sebagai sarana edukasi bagi generasi muda di Morotai.

“Ini temuan yang sangat berharga. Ke depan, temuan ini akan ditempatkan di museum atau di bawah koordinasi Dinas Pendidikan sebagai bahan pembelajaran sejarah bagi siswa-siswi di Morotai,” tutupnya.

Sahril Abdullah
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter