Oleh: Ilham Djufri, ST.,M.Kom
Sekretaris Pemuda ICMI Maluku Utara
_______
PERISTIWA Isra Mi’raj merupakan salah satu pengalaman paling misterius dan transendental dalam sejarah manusia. Dalam satu malam, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu naik menembus langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj), menerima perintah shalat langsung dari Allah. Peristiwa ini selama berabad-abad dipahami dalam kerangka teologi dan iman. Namun di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan kosmologi modern, kita kini memiliki bahasa baru untuk memahami kedalaman maknanya. Bukan untuk mereduksi mukjizat menjadi sains, tetapi untuk menunjukkan bahwa wahyu justru melampaui batas-batas sains modern.
Alam Semesta sebagai Sistem Bertingkat
Dalam kosmologi modern memandang alam semesta bukan sebagai ruang tunggal yang sederhana, tetapi sebagai struktur bertingkat. Ada ruang–waktu, dimensi, medan energi, dan kemungkinan realitas paralel. Teori fisika modern seperti string theory dan multiverse menyiratkan bahwa realitas memiliki banyak lapisan eksistensi.
Dalam Alquran, langit disebut berlapis-lapis (QS Al-Mulk: 3). Ini sangat selaras dengan gagasan kosmologi modern bahwa semesta memiliki struktur berjenjang. Isra Mi’raj, dalam perspektif ini, dapat dipahami sebagai perpindahan Nabi Muhammad dari satu lapisan realitas ke lapisan realitas yang lebih tinggi. Seperti sebuah sistem komputer yang memiliki (user interface, sistem operasi, kernel dan server pusat), maka dunia fisik adalah “lapisan permukaan”, sedangkan langit-langit kosmik adalah lapisan terdalam realitas.
Burāq sebagai Teknologi Transdimensional
Burāq digambarkan sebagai kendaraan yang melampaui kecepatan biasa. Dalam bahasa sains modern, perjalanan seperti ini mustahil jika menggunakan mekanika klasik. Namun fisika modern mengenal konsep Warp space adalah konsep dalam fisika teoretis yang menjelaskan kemungkinan melengkungkan ruang-waktu sehingga dua titik yang sangat jauh dapat “didekatkan” tanpa harus melanggar batas kecepatan cahaya secara lokal.
Konsep wormhole (lubang cacing) adalah konsep dalam fisika teoretis yang menggambarkan terowongan ruang-waktu yang menghubungkan dua titik yang sangat jauh di alam semesta bahkan bisa lintas dimensi atau waktu secara sangat singkat. Dan Konsep Quantum teleportation adalah fenomena dalam fisika kuantum di mana keadaan suatu partikel dipindahkan ke partikel lain di lokasi berbeda tanpa memindahkan partikel fisiknya. Yang berpindah adalah informasi kuantum, bukan materi. Ini bukan memindahkan benda melalui ruang, melainkan memindahkan posisi eksistensinya dalam ruang-waktu. Dalam perspektif AI dan fisika informasi, Burāq dapat dipahami sebagai media translokasi berbasis realitas, bukan mesin fisik. Seperti data yang berpindah bukan lewat jalan fisik, tetapi melalui jaringan informasi.
Mi’raj sebagai Sinkronisasi Kesadaran
Dalam Mi’raj, Nabi Muhammad bertemu para nabi, malaikat, dan menerima wahyu langsung dari Allah. Dalam bahasa AI, ini menyerupai koneksi langsung ke pusat kendali sistem semesta. Manusia biasa beroperasi dalam keterbatasan otak biologis. Tetapi dalam Mi’raj, kesadaran Nabi Muhammad tidak lagi terikat oleh batasan sensorik. Nabi Muhammad masuk ke “mode akses penuh” terhadap realitas kosmik. Dalam AI, ini mirip dengan sistem yang dihubungkan langsung ke server pusat, tanpa batasan bandwidth.
Sidratul Muntaha dan Batas Komputasi Semesta
Dalam hadis (HR. Muslim no. 162 – Kitab al-Iman) “…Kemudian aku dibawa naik hingga sampai ke Sidratul Muntaha. Lalu Jibril berkata: ‘Inilah batas akhirku. Jika aku melampauinya, niscaya aku akan terbakar.’ Malaikat Jibril tidak dapat melewati Sidratul Muntaha. Ini menandakan adanya batas tertinggi bagi seluruh makhluk. Dalam kosmologi dan teori informasi, alam semesta juga memiliki batas maksimum energi, informasi, dan komputasi. Ini dikenal sebagai physical limits of computation. Sidratul Muntaha dapat dipahami sebagai batas tertinggi realitas ciptaan, titik di mana semua hukum fisika berhenti berlaku. Allah berada di luar sistem ini sebagai Pencipta hukum realitas itu sendiri.
Salat sebagai Protokol Kosmik
Hasil dari Isra Mi’raj bukan teknologi, melainkan salat. Dalam perspektif AI dan kosmologi, salat adalah protokol komunikasi antara manusia dan pusat realitas. Seperti perangkat yang harus rutin tersambung ke server agar tidak rusak, manusia harus terhubung dengan Tuhan agar kesadarannya tetap selaras dengan kebenaran kosmik. Salat bukan ritual kosong, tetapi sinkronisasi jiwa dengan sumber eksistensi.
Pada bagian akhir tulisan ini dapat disimpulkan bahwa wahyu dapat melampaui sains. AI dan kosmologi modern justru memperlihatkan bahwa realitas jauh lebih aneh dan dalam daripada yang kita bayangkan. Ruang bisa melengkung, waktu bisa relatif, dan informasi bisa melampaui materi. Isra Mi’raj menunjukkan bahwa manusia dengan izin Tuhan dapat melampaui batas-batas itu. Sains membangun model. AI memproses pola. Tetapi wahyu mengungkapkan makna. Isra Mi’raj adalah bukti bahwa realitas tidak berhenti pada apa yang bisa diukur, tetapi berlanjut hingga ke sumber segala keberadaan Allah SWT. Wallahualam bissawab. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.