Oleh: Anwar Husen
Pemerhati Sosial/Tinggal di Tidore, Maluku Utara
_______
TIMNAS sepak bola U-20 Maroko baru saja menjadi juara Piala Dunia U-20 2025, kalahkan Argentina.
Timnas U-20 Maroko mencatat sejarah dengan meraih gelar Piala Dunia U-20 2025, menjadi tim dari Afrika kedua yang berhasil menjadi juara di ajang ini.
Final Piala Dunia U-20 itu mempertemukan Argentina U-20 vs Maroko U-20. Pertandingan digelar di Estadio Nacional Julio Martinez Pradanos, Santiago, Senin [20/10/2025].
Tulisan pendek saya, yang dibuat di momentum World Cup 2022 berjudul “Sensasi Maroko” ini hendak menandai dan menjadi pengingat, betapa Maroko sedang serius-seriusnya mengembangkan sepak bola mereka, meniru Jepang.
_______________
Jika Anda memuliakan Tuhan, Dia akan memuliakan Anda
Maroko, sebuah negara kerajaan dengan bentuk pemerintahan monarki semi-konstitusional yang terletak di ujung barat laut Afrika dan di ujung benua Eropa, tepatnya di selat Gibraltar yang memisahkannya dengan Spanyol. Beribu kota Rabat dan memiliki populasi penduduk kurang lebih 36 juta [2022] dan 99 persen adalah penganut Islam. Berbahasa resmi Arab dan Berber, negara ini memiliki total luas kurang lebih 446 ribu km2.
Kebudayaan Maroko terbilang unik karena merupakan campuran antara Arab, Eropa dan Berber ini, di lambang negaranya terdapat tulisan dalam bahasa Arab yang berarti kurang lebih “Jika Anda memuliakan Tuhan, Dia akan memuliakan Anda”.
Timnas Singa Atlas Maroko di Qatar
Dalam sebuah titel di Serial Cofidabe, laman saya di Facebook, saya pernah menulis bahwa respon psikologis tentang sesuatu hal atau peristiwa dalam pengamatan kita, sering hanya bergeser dari situasi: MUNGKIN, RAGU-RAGU, ataupun TIDAK MUNGKIN. Atau bisa sebaliknya.
Semua kita tahu, mulanya ketika Timnas Sepakbola Maroko di Piala Dunia Qatar 2022, yang meski berada di Grup F bersama beberapa nama tenar seperti Belgia dan Croasia, orang memandang sebelah mata pada tim ini. Bahkan grup inipun bukan menjadi grup favorit yang bakal jadi juara. Kalah pamor dengan grup lainnya yang di huni nama-nama besar seperti Belanda, Argentina, Brazil, Jerman, Perancis, Inggris, hingga Portugal.
Tetapi seiring perjalanan waktu dan laga yang di lalui, konklusi serial Cofidabe tadi perlahan mulai terbukti. Di fase grup, Timmas Maroko yang bertengger di ranking 22 FIFA, melaju sebagai juara grup dengan poin 7 di susul Croasia yang mengoleksi rangking 12 FIFA. Timnas Belgia yang notabene adalah tim yang memiliki rangking terbaik FIFA [ranking 2], justru tereliminasi. Mengagetkan.
Tren simpati atau bahkan eskalasi dukungan yang mulai beralih kepada Timnas Maroko, juga terjadi seiring di picu tumbangnya tim-tim unggulan yang di dukung fans. Simpati terhadap Timnas Maroko perlahan mengkristal. Banyak variabel sentimen/emosi lainnya yang berkelindan dan di duga jadi sebab, di antaranya adalah kedekatan hubungan kontinental/wilayah Asia-Afrika yang menyebabkan orang lebih mudah tertarik pada yang lebih dekat secara geografis. Rasa senasib, kedekatan emosi/kesamaan ciri budaya juga jadi magnet simpati. Ada juga sentimen keyakinan agama yang kental terbangun atas dasar ukhuwah karena di dasari fakta bahwa Maroko adalah negara muslim pertama yang sejauh ini sempat bertengger di singgasana semi final event sepakbola sekelas Piala Dunia yang bisa terbaca dari riuh euforia di media sosial, misalnya. Juga hubungan-hubungan rasional dan emosi lainnya yang sulit di ungkap.
Masih di babak 16 Besar, mereka secara dramatis menyingkirkan sang raksasa Spanyol juara dunia 2010 [ranking 6 FIFA] dan di fase perempat final, secara meyakinkan mampu “mengkoforkan” juara Eropa 2016 yang juga pemilik nama besar seperti Ronaldo dan pengoleksi ranking 5 FIFA, Portugal.
Mereka pun dengan penuh keyakinan, bisa mengukir sejarah baru sebagai tim asal benua Afrika pertama yang berhasil tembus semifinal World Cup, sensasional. Sebelumnya, tak se-sensional ini : Kamerun [1990] lolos 8 besar, Nigeria [1994] lolos 16 besar, Senegal [2002] lolos 8 besar dan Ghana [2010] lolos 8 besar. Praktis,Maroko bikin sejarah paling update buat Afrika.
Di deretan negara-negara yang terbanyak tampil di semi final Piala Dunia, hanya USA [1930], Korea Selatan [2002] dan Maroko [2022], di luar konfederasi CONMBOL dan UEFA yang pernah meraihnya masing-masing 1 kali. Selebihnya, langganan tim-tim hebat. Dan di Grup F tadi justru tercipta sejarah : Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia sejak 1990, juara grup [Maroko] dan runner-up [Croasia] sama-sama melaju ke semi final.
Di sembilan laga internasional terakhir termasuk di Piala Dunia ini, Timnas Maroko belum pernah kebobolan. Itu termasuk melawan Chile dan Paraguay, dua tim kuat.
Shakira “My Africa”
Biduan kenamaan nan cantik, Shakira, yang berkembangsaan Kolumbia, pelantun “Waka-Waka” This Time For Africa, Ciptaan/Komposer John Hill yang jadi tembang resmi World Cup Afrika 2010 yang heboh, bahkan disebut sebagai salah satu tembang World Cup terbaik itu, bahkan mengunggah ulang kebanggaannya di akun Twitter @shakira dengan ciutan: THIS TIME FOR AFRICA bertagar #World Cup setelah Maroko menumbangkan Portugal, bahkan memperoleh like 1,1 juta, retweet 179 ribu dan 22 ribu tweet kutipan dalam waktu kurang lebih 24 jam. Cara seorang Shakira mengeksplor ulang emosi ber”Afrika”nya. Respek.
Mari ke lapangan saat pertandingan. Fakta yang tersaji, banyak sekali adegan mengoyak emosi “merasa dekat” di atas. Mulai dari kekaguman atas aksi pemain dan timnya, rekor yang di torehkan, hingga ke prilaku pemain dan supertornya menyambut kemenangan.
Insting Kiper Ganteng Yassine Bounou
Si laki-laki ganteng yang bermain untuk klub Sevilla ini adalah satu dari dua kiper, bersama Gianluigi Buffon [Italia], yang gawangnya belum pernah kebobolan dari pemain lawan hingga ke babak semifinal dalam sejarah World Cup. Gol kanada ke gawang Maroko saat mereka kalah 2-1 adalah gol bunuh diri Nayef Aguerd. Dia juga salah satu kiper terbaik di ajang ini. Dalam laga melawan Pertugal, Ia terpilih sebagai Man of The Match, namun dia mengajak rekannya pencetak gol satu-satunya di laga itu, dan sesama pemain Sevilla, Youssef En-Nesyri untuk ikut mengangkat penghargaan MOTM. Maroko memang selalu mengesankan meski pada hal-hal “kecil” dan mungkin luput dari perhatian banyak orang.
Gol dengan “Lompatan Gila”
Ketika mengalahkan Timnas Portugal di quarterfinals lalu, En-Nesyri menciptakan gol semata wayang dengan kepala di menit ke 42. Di klaim sebagai gol dengan “lompatan gila” yakni setinggi 2,78 meter dan di anggap sebagai gol tertinggi di World Cup. Dia pun mengunggah di akunnya foto lompotan 2,78 meternya bersanding dengan foto rekor Ronaldo yang hanya melompat 2.5 meter.
En-Nesyri sendiri di masa muda bersama Nayef Aguerd adalah jebolan program pendidikan sepak bola The Ecademie Mohammed VI de football, sebuah akademi yang di dirikan raja Maroko Mohammed VI yang di dedikasikan untuk menyatukan anak-anak jalanan di Maroko.
Walid Regragui, sang arsitek plontos yang fenomenal
Pelatih timnas Maroko ini menjadi orang asal benua Afrika pertama yang bisa melatih sebuah tim di fase quarterfinals Piala Dunia melampaui yang di capai Aliou Cisse, pelatih Timnas sesama Afrika, Senegal, yang nyentrik dan hebat itu. Regragui sendiri di 2007 merupakan rekan se tim andalan Timnas Perancis, Olivier Giroud di club Ligue 2, Grenoble. 15 tahun kemudian, Redrague jadi Pelatih Maroko dan Giroud masih tetap bermain untuk Perancis. Tentu menarik menyaksikannya di laga semi final nanti.
Selebrasi yang menggugah
Seantero jagat mengamatinya. Ya, cara mereka para pemain Timnas Maroko mengekspresikan kegembiraannya di lapangan ketika menang. Jika pemain Timnas Brazil merayakannya dengan berjoget sebagaimana tradisi mereka di Brazil, pemain Maroko punya cara yang menggugah, penuh pesan rasa syukur pada sang Khaliq, bukti bakti pada ibu, hingga solidaritas dan ukhuwah buat Palestina.
Melafadzkan Alfatihah
Perilaku khas tim ini begitu menyentuh hati umat muslim sedunia. Tidak sedikit di antara mereka yang tertangkap kamera membacakan ayat-ayat suci di lapangan. Bersujud di lapangan sebagai tanda syukur usai menang, juga jadi pemandangan khas yang kerap mereka lakukan. Sebuah adegan bahkan terekam kamera mereka melafadzkan surat Alfatihah saat berlangsung drama adu pinalti melawan Spanyol. Maroko, negeri para hafidz.
Brand baru, memuliakan ibu
Di adegan yang lain ada bukti bakti buat sang ibu tercinta. Sesaat setelah Timnas Maroko di pastikan menjadi Tim Afrika pertama yang berhasil menembus semi final setelah menundukan Portugal 1-0, gelandang Sofiane Boufal mengajak ibunya menari di lapangan Stadion Al-Thumama, Doha. Lain dengan Achraf Hakimi. Ia yang berlari penuh emosi menuju ibunya, mendekap erat sang ibunda dan menciumnya, sebuah adegan yang mengobrak-abrik emosi bagi yang menyaksikannya. Ibu Hakimi yang seorang PRT, ketika di tanya wartawan, bagaimana kalau marah ke Hakimi? Ia menjawab, setiap marah, aku sumpahi dia semoga jadi anak sukses dan baik, Allah Yahdik [Semoga Allah memberimu hidayah].
Jika pemain timnas negara lain terpantau membawa anak dan isterinya ke Qatar untuk menonton, pemain timnas Maroko memang rata-rata di temani sang ibu, menonton langsung karena di minta. Seiring prestasi, Timnas Maroko mungkin sedang mengusung brand khasnya di lapangan bola: Ditonton dan didoakan ibu, berlari menuju Ibu begitu mendapatkan hasil baik, bersuka cita dan menyenangkan hati Ibu. Mereka efektif mempertontonkan brand yang menggugah ini di mata jutaan publik bola dunia dan jadi viral, fantastik.
Solidaritas dan Ukhuwah buat Palestina
Ada dua potongan adegan yang terpantau sebagai bentuk ukhuwah dan solidaritas buat Palestina. Achraf Hakimi membungkus dirinya dengan bendera Palestina sebagai simbol solidaritas dan ukhuwah usai menang. Di tribun penonton, hal sama di lakukan seorang suporter. Amina Dehbi, wanita berparas cantik pegiat media sosial Maroko ini terlihat mengenakan syal khas berbendera Palestina sembari mengibas-ngibas bendera mini negaranya usai laga Maroko melawan Belgia. Pemandangan bernuansa bendera Palestina di Tribun Penonton Maroko adalah hal yang kerap terlihat. Sofiane Boufal bahkan menyatakan dengan gamblang bahwa kami mendedikasikan kemenangan ini untuk semua bangsa Arab, semua muslim dan semua orang Maroko di dunia, mengharukan.
Amine El Amri, seorang penulis koran Maroko, Le Matin berkata : “Kami memecahkan langit-langit kaca dan sekarang langit ada batasnya”.
Mungkin dia sedang di batas horison tertinggi keyakinan negaranya, bahwa apapun bisa di lakukan Maroko saat ini, termasuk menjadi kampium di World Cup Qatar 2022 ini, sebuah keyakinan yang mungkin saja sama dengan pemilik paras cantik Shakira ketika mengulang syair lagu Piala Dunia Afrika 2010, di tweetnya tadi : THIS TIME FOR AFRICA.
Bukan kebetulan jika Spanyol, juga Perancis, yang di masa lalu pernah menjajah Maroko, Timnasnya telah duluan di “pulangkan” Maroko. Dan Timnas Perancis sangat mungkin bernasib sama.
Saya tidak berani mengatakan bahwa Timnas Maroko akan jadi kampium di World Cup kali ini, tetapi kita berkeyakinan bahwa perilaku berikhtiar dengan usaha dan doa, bersujud sebagai tanda syukur ketika memperoleh nikmat, berempati pada mereka yang tertindas ketidakadilan dan menggembirakan hati dan membuat sang ibu tersenyum haru, adalah prilaku yang di sukaiNya : Kapan saja pintu taqdir bisa terbuka dengan “kunci” ini atas ijinNya.
Di atas segalanya, Timnas Maroko tak sekedar mengusung semangat membuat sejarah atau bahkan mengukir “jawara” di event prestisius ini karena sedang on fire, mereka di saat yang sama, sedang menebarkan nilai-nilai kebaikan kepada dunia.
Masih terngiang pesan yang tertulis di lambang negara Maroko tadi : Jika Anda memuliakan Tuhan, Dia akan memuliakan Anda. Wallahua’lam. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.