Oleh: M Jain Amrin
_______
DESA Kurunga pernah begitu damai tempat di mana tawa anak-anak berpadu dengan suara angin yang melintas di pinggiran pantai. Namun, seiring waktu dan perbedaan pilihan, kedamaian itu mulai memudar. Dinding yang dulu terbuka kini terasa berjarak, dan tangan yang biasa berjabat kini ragu untuk bersentuhan. Pilkada telah usai, tetapi luka sosial yang ditinggalkannya masih terasa. Inilah saatnya bagi kita semua untuk merenung, bahwa sejatinya Desa Kurunga tak butuh amarah yang membakar, melainkan cinta yang memeluk.
Cinta adalah bahasa yang paling mudah dimengerti oleh hati. Ia tak membutuhkan pidato panjang atau janji yang rumit cukup dengan saling menyapa, saling memaafkan, dan saling memahami. Ketika cinta tumbuh di hati warga, maka perbedaan tak lagi menjadi tembok, melainkan jembatan untuk saling menguatkan. Desa Kurunga akan kembali hidup, bukan karena satu pihak menang, tapi karena semua bersedia membuka pintu maaf dan mengubur ego demi kebaikan bersama.
Namun kenyataannya, masih ada hati yang terluka dan hubungan yang belum sepenuhnya pulih. Di beberapa sudut desa, percakapan masih dibatasi jarak, sapaan yang dulu akrab kini terdengar kaku. Padahal, setiap warga sejatinya merindukan suasana seperti dulu saat kebersamaan tak ditentukan oleh pilihan politik, melainkan oleh rasa saling percaya dan kasih sayang antar sesama. Luka sosial tidak bisa sembuh dengan waktu saja, tetapi dengan keberanian untuk mengulurkan tangan dan menundukkan ego demi perdamaian.
Waktu telah memberi jarak yang cukup antara luka dan kesadaran. Inilah saat terbaik untuk kembali menenun silaturahmi yang pernah terputus. Tidak ada desa yang maju tanpa kedamaian, dan tidak ada kedamaian tanpa cinta. Mari kita mulai lagi dari langkah kecil, dari hati yang mau mendengar, dari senyum yang mau diberikan tanpa syarat. Cinta memang tidak menyelesaikan semua hal sekaligus, tetapi cinta mampu melembutkan hati yang keras dan menghangatkan kembali suasana yang dingin.
Desa Kurunga butuh cinta yang nyata cinta yang terlihat dalam gotong royong membangun jalan, dalam sapaan di pasar, dalam doa bersama di rumah ibadah, dan dalam saling membantu saat kesulitan datang. Sebab cinta bukan hanya kata, melainkan tindakan sederhana yang menjaga kebersamaan.
Kini, harapan baru mulai tumbuh di antara warga yang perlahan menyadari bahwa amarah hanya memperpanjang jarak, sementara cinta membawa mereka kembali ke pelukan yang sama: pelukan tanah kelahiran. Sudah saatnya Desa Kurunga kembali menjadi tempat di mana perbedaan tidak melahirkan kebencian, tetapi memperkaya warna kehidupan. Karena pada akhirnya, Desa Kurunga tidak butuh dendam yang memecah, ia hanya butuh cinta yang menyatukan dari hati yang tulus, untuk masa depan yang damai. (*)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.