Tandaseru — Dosen Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Hudan Irsyadi, menerima penghargaan Anugerah Tokoh Akademisi Budaya dalam malam puncak Festival Tara No Ate yang digelar di Ternate, Sabtu (24/10/2026) malam. Penghargaan dari Kesultanan Ternate itu diserahkan Permaisuri Kesultanan Ternate bersama Gubernur Maluku Utara.

Festival Tara No Ate yang berlangsung meriah tersebut dihadiri ribuan peserta dari berbagai penjuru Maluku Utara. Malam puncak menjadi ajang apresiasi bagi para pelaku, pegiat, dan pendukung kebudayaan yang dinilai berjasa dalam pelestarian budaya daerah.

Selain Hudan, sejumlah pihak juga menerima penghargaan dalam kesempatan itu. Anugerah Pelestari Budaya diberikan kepada Pengrajin Tuala Lipa, sementara Tokoh Inspiratif Kebudayaan diraih Dr. Agus Salim Bujang. Anugerah Sanggar Seni diberikan kepada Sanggar Teater Anak Bangsa, dan Anugerah Komunitas Budaya kepada Buku Suba Institute.

Adapun Anugerah Media Partner Terbaik diterima Malut Post, Anugerah UMKM Inspiratif diberikan kepada KTH Buku Manyeku atas produk Minyak Cengkeh Hiri, serta Anugerah Mitra Pendukung Festival kepada Bank Indonesia.

Akademisi dan Penggerak Tradisi Lisan

Bagi Hudan, penghargaan ini bukan tanpa alasan. Ia dikenal sebagai akademisi yang konsisten mengkaji dan mendorong pelestarian budaya lokal Maluku Utara, khususnya di ranah tradisi lisan.

Dalam berbagai kesempatan, lulusan Master dari Universitas Gadjah Mada tersebut aktif menyuarakan pentingnya perlindungan cagar budaya. Ia pernah menegaskan bahwa Ternate layak disebut sebagai “kota seribu benteng” karena kekayaan peninggalan sejarahnya, dan mengkritisi kebijakan pemerintah kota yang dinilai mengurangi kawasan cagar budaya dalam rancangan peraturan daerah. Menurutnya, perlindungan cagar budaya telah diatur tegas dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 dan tidak seharusnya diabaikan.

Sebagai Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Maluku Utara, peran Hudan dalam pelestarian tradisi lisan Ternate dan Tidore telah tampak jauh sebelum penghargaan ini diterima. Pada September 2012, ia tercatat sebagai pembicara dalam diskusi bertema “Tradisi Lisan di Ternate dan Tidore” yang diselenggarakan Ternate Heritage Society, dengan topik spesifik “Tradisi Lisan di Ternate di Tengah Himpitan Globalisasi.” Keterlibatannya dalam forum-forum semacam ini menunjukkan konsistensinya menjembatani dunia akademik dengan praktik kebudayaan masyarakat.

Komitmen Hudan terhadap tradisi lisan juga tercermin dalam karya akademiknya. Ia aktif mempublikasikan riset tentang sastra lisan dan kearifan lokal Maluku Utara, termasuk kajian mengenai legenda Batu Tolu dan Batu Anyar serta Pulau Orang Kaya yang mengandung nilai-nilai penghormatan kepada keluarga kerajaan Ternate dan Tidore.

Dalam profil akademiknya, ia tercatat sebagai mantan Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya sekaligus dosen Program Studi Antropologi Unkhair, dengan fokus riset yang mendalam pada sastra lisan Maluku Utara.

Selain itu, Hudan juga terlibat dalam kegiatan pemajuan kebudayaan bersama komunitas lokal. Ia pernah menjadi narasumber dalam workshop yang digelar Buku Suba Institute—lembaga yang turut menerima penghargaan dalam festival ini—dengan tema “Ngofa Gam Nonako Budaya” (Anak negeri mengenal budaya). Keterlibatannya dalam riset dan diskusi kebudayaan menunjukkan komitmennya menjembatani dunia akademik dengan praktik kebudayaan masyarakat.

Para Penerima Penghargaan Lainnya

Anugerah Pelestari Budaya diberikan kepada Pengrajin Tuala Lipa. Tuala Lipa sendiri merupakan penutup kepala tradisional Ternate yang memiliki makna filosofis mendalam, namun semakin jarang dikenal generasi muda. Penghargaan ini diharapkan mendorong upaya pelestariannya.

Sanggar Teater Anak Bangsa, penerima Anugerah Sanggar Seni, dikenal aktif melibatkan anak-anak dari pulau sekitar Ternate melalui program “Teater Masuk Kampung.” Pendirinya, Zainudin M. Arie, dikenal kerap mengangkat kisah kehidupan masyarakat pinggiran dalam pementasan.

Sementara itu, Buku Suba Institut yang menerima Anugerah Komunitas Budaya merupakan lembaga riset yang aktif menerbitkan kajian tentang kearifan lokal Ternate, termasuk buku “Mengurai Kearifan Lokal Masyarakat Ternate” yang membahas tradisi seperti Tuala Lipa, Ngogu Adat, dan Fere Kie.

Adapun KTH Buku Manyeku dari Pulau Hiri menerima Anugerah UMKM Inspiratif atas produk Minyak Cengkeh Hiri. Produk ini diolah dari daun cengkih dan menjadi bagian dari upaya masyarakat setempat menghidupkan kembali warisan rempah Maluku Utara.

“Penghargaan ini bukan hanya milik saya pribadi, tetapi milik Universitas Khairun dan seluruh masyarakat Maluku Utara yang terus menjaga warisan budayanya,” ujar Hudan usai menerima penghargaan.

Malam puncak Festival Tara No Ate ditutup dengan suasana khidmat dan penuh syukur, menandai komitmen bersama untuk terus merawat budaya sebagai identitas dan kekuatan masyarakat Maluku Utara.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter