Tandaseru – Inisiator Kongres Perdamaian Dunia (Konperda), Sutrisno Pangaribuan, meminta semua pihak menghentikan politisasi terhadap potongan video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK). Ia menilai laporan polisi yang dilayangkan sejumlah organisasi kemasyarakatan (Ormas) berbasis SARA merupakan gerakan elite yang bermotif politik.

Sutrisno menegaskan, laporan tersebut tidak mewakili suara umat Kristen secara keseluruhan. Menurutnya, hingga saat ini tidak ada warga negara biasa dari kalangan Kristen Protestan maupun Katolik yang merasa keberatan hingga menempuh jalur hukum, kecuali para elite Ormas tersebut.

“Gerakan lapor rame-rame tersebut adalah gerakan elite dan bermotif politik, bukan gerakan umat atau rakyat. Umat Kristen Indonesia tidak terpengaruh pada potongan video pernyataan Muhammad Jusuf Kalla,” ujar Sutrisno dalam keterangan tertulisnya di Medan, Selasa (14/4/2026).

Lebih lanjut, ia menekankan kondisi ekonomi nasional saat ini jauh lebih meresahkan dibandingkan kegaduhan video tersebut. Sutrisno menyoroti melemahnya nilai tukar rupiah yang menyentuh angka Rp 17.105 per USD pada penutupan pasar spot Senin (13/4), serta dampak konflik global antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terhadap harga minyak dunia.

Ia menyayangkan sikap pimpinan Ormas pelapor yang juga menjabat sebagai pimpinan partai politik koalisi pemerintah serta komisaris di anak perusahaan BUMN/Danantara. Sutrisno menilai, seharusnya mereka fokus membantu pemerintah menghadapi ancaman krisis ekonomi.

“Yang seharusnya dilakukan oleh elite Ormas Kristen yang mengklaim meneladani Kristus adalah membantu pemerintah, gotong royong dalam menghadapi sejumlah ancaman krisis jika perang terus berlanjut,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Sutrisno meminta pimpinan Ormas tidak sembarangan mengatasnamakan aspirasi umat Kristen demi kepentingan pribadi atau kelompok. Ia mengimbau agar setiap tindakan hukum dilakukan atas nama pribadi tanpa membawa-bawa identitas organisasi keagamaan jika tidak mendapat mandat langsung dari umat.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter