Tandaseru – Yayasan Rumah Konseling Maluku Utara (Malut) angkat bicara menyusul maraknya pemberitaan mengenai dugaan pelecehan seksual di salah satu sekolah di Kabupaten Pulau Morotai. Terduga pelaku dalam kasus tersebut dikabarkan merupakan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN).
Direktur Yayasan Rumah Konseling Malut, Ikhwanul Kiraam J. Saleh, menegaskan dunia pendidikan harus steril dari praktik asusila. Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi tempat yang mencerdaskan sekaligus memberikan rasa aman bagi siswa.
“Dunia pendidikan harus terbebas dari praktik busuk dan biadab seperti ini. Pendidikan bukan saja mencerdaskan, tetapi juga menjaga rasa aman dan nyaman bagi setiap orang yang memiliki motivasi untuk belajar,” ujar Ikhwanul dalam keterangan tertulisnya, Selasa (14/4/2026).
Ikhwanul menyatakan, jika dugaan tersebut terbukti benar, pihaknya mengutuk keras tindakan oknum pengajar tersebut. Ia juga mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran di sekolah yang bersangkutan.
Indikasi awal menunjukkan peristiwa serupa diduga telah terjadi berulang kali di sekolah tersebut sebelum akhirnya mencuat ke publik melalui laporan para siswa.
“Kami meminta Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara mengevaluasi seluruh jajaran di sekolah tersebut. Pasalnya, sebelum ada laporan dari beberapa siswa, peristiwa ini diduga sudah terjadi berulang kali namun tidak diketahui khalayak publik,” tegasnya.
Selain tuntutan evaluasi, Rumah Konseling Malut juga mendorong penguatan peran Guru Bimbingan Konseling (BK) di seluruh sekolah di Maluku Utara. Keberadaan Guru BK dinilai vital untuk memantau perkembangan emosional, motivasi belajar, karier, hingga kesehatan mental siswa guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
“Setiap sekolah di Maluku Utara wajib memfungsikan Guru BK. Hal ini sangat penting untuk mengetahui kondisi siswa, baik dari sisi emosional maupun masalah mental lainnya,” tutup Ikhwanul.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.