Tandaseru – Menjelang peringatan Hari Jadi Tidore (HJT) ke-981, Kesultanan Tidore bersama Pemerintah Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, mulai melaksanakan rangkaian ritual adat sakral. Pada Sabtu (4/4/2026), prosesi diawali dengan upacara Kota Tupa, yang nantinya akan diikuti ritual Akedango dan Lufu Kie.
Ritual Kota Tupa merupakan simbol permohonan doa dari Sultan Tidore (Kolano) kepada para Sowohi di Soa Romtoha Toma You (lima keluarga besar di Gurabunga-Gamtufkange). Prosesi ini bertujuan memohon keberkahan, kesejahteraan bagi rakyat, serta perlindungan negeri dari segala musibah.
Dalam pelaksanaannya, Sultan dan pemerintah daerah menyiapkan Tupa berisi persyaratan adat (Dimai) berupa pinang, sirih, dan tembakau. Wadah sakral tersebut kemudian diantar oleh para Bobato dari Kedato Kie (Keraton) menuju Kedato Gimalaha Tomayou sebagai perantara sebelum diteruskan ke tingkat yang lebih tinggi.
Joujau (Perdana Menteri) Kesultanan Tidore, Ishak Naser, menjelaskan rangkaian ini merupakan tradisi turun-temurun untuk menyambut puncak HJT yang jatuh pada 12 April mendatang.
“Setelah Tupa, akan dilanjutkan dengan ritual Lufu Kie atau keliling pulau. Prosesi ini melibatkan armada inti berupa 12 Juanga (kapal perang) dan Kagunga (kapal khusus Sultan), serta armada kora-kora lainnya,” ujar Ishak.
Selain sebagai penghormatan terhadap sejarah, ritual Lufu Kie juga diisi dengan ziarah ke makam para Sultan dan ulama besar yang memiliki karomah di wilayah Kesultanan Tidore.
Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, rangkaian ritual adat selanjutnya akan dilaksanakan secara bertahap, yakni:
- 8 April: Prosesi Akedango (Air Doa).
- 9 April: Prosesi Lufu Kie (Keliling Pulau).
- 10 April: Pembacaan Ratib Haddad.
Rangkaian kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat nilai spiritual dan adat masyarakat, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang menonjolkan kebesaran sejarah Kesultanan Tidore di Maluku Utara.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.