Oleh: Herman Oesman

Dosen Sosiologi FISIP UMMU

________

Di tengah dunia yang telah tenggelam dalam simulasi, puasa merupakan upaya kembali pada pengalaman yang paling elementer: rasa lapar, waktu yang melambat, dan kesadaran akan keterbatasan.”

PUASA, dalam pengertian paling sederhana, sebagaimana kita pahami bersama, merupakan praktik menahan diri. Dari makan, minum, hasrat, dan berbagai kenikmatan duniawi. Namun, bagaimana jika puasa dibaca bukan sekadar sebagai ritual keagamaan, melainkan sebagai strategi simbolik di tengah dunia yang dijejali tanda, citra, dan simulasi? Di sinilah pemikiran Jean Baudrillard menjadi menarik untuk diajak “berpuasa bersama.”

Jean Baudrillard, dalam karya monumentalnya Simulacra and Simulation (1981), menyatakan bahwa masyarakat kontemporer telah bergerak dari representasi menuju simulasi. Kita tidak lagi hidup dalam realitas yang direpresentasikan oleh tanda, melainkan dalam hiperrealitas, ruang di mana tanda-tanda lebih nyata daripada yang nyata. Dalam hiperrealitas, citra tentang makanan lebih menggoda daripada makanan itu sendiri; iklan lebih kuat daripada pengalaman; dan identitas lebih dibentuk oleh media sosial ketimbang oleh interaksi langsung.

Dalam konteks ini, puasa dapat dibaca sebagai bentuk resistensi simbolik. Jika masyarakat konsumsi bekerja dengan prinsip produksi dan reproduksi tanda-tanda hasrat, maka puasa merupakan penghentian sementara sirkulasi tanda tersebut. Dalam karyanya yang lain, yang berpengaruh di kalangan ilmuwan sosial, The Consumer Society (1970), Baudrillard menjelaskan, bahwa konsumsi bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan sistem tanda (system of signs) yang menandai status sosial dan diferensiasi. Kita tidak mengonsumsi barang karena lapar, tetapi karena makna yang melekat pada barang itu.

Puasa, dalam arti ini, memutus relasi antara kebutuhan dan tanda. Ia mengembalikan makan pada dimensi biologis dan spiritual, bukan pada dimensi simbolik kapitalisme. Ketika seseorang berpuasa, ia menolak, meski sementara, logika “aku mengonsumsi maka aku ada.” Ia memasuki ruang hening yang tidak sepenuhnya dapat dikomodifikasi.
Namun, Baudrillard akan mengingatkan kita: bahkan puasa pun berisiko menjadi simulakrum. Di era serba digital, puasa bisa berubah menjadi konten; ibadah menjadi estetika; dan kesalehan menjadi performa. Dalam logika hiperrealitas, orang tidak sekadar berpuasa, tetapi memamerkan puasa, mengunggah menu sahur, berbagi foto takjil, berfoto saat buka bersama (bukber) atau menampilkan narasi spiritualitas di media sosial. Di sini, yang dikonsumsi bukan lagi makanan, melainkan citra tentang penahanan diri.

Baudrillard berbicara juga tentang pertukaran simbolik (symbolic exchange) sebagai sesuatu yang melampaui logika nilai tukar kapitalisme (Baudrillard, 1976/1993). Dalam Pertukaran simbolik menurut Baudrillard, mengandung dimensi pengorbanan, pemberian, dan bahkan kematian sebagai bentuk pembalikan terhadap sistem produksi. Puasa, dalam tradisi keagamaan, memiliki dimensi pengorbanan ini. Ia merupakan pemberian tubuh kepada makna, pengurangan diri demi intensifikasi kesadaran. Jika konsumsi merupakan perayaan keberlimpahan tanda, maka puasa merupakan estetika kekurangan. Ia menghadirkan kekosongan sebagai makna. Dalam dunia yang dijejali notifikasi, iklan, dan distraksi, puasa menjadi praktik dekonstruksi terhadap hiperrealitas. Ia menciptakan jarak antara subjek dan objek, antara hasrat dan pemenuhannya.

Tetapi pertanyaan kritisnya: mungkinkah puasa sungguh-sungguh keluar dari sistem simulasi? Tentang hal ini, Baudrillard skeptis terhadap kemungkinan “keluar” yang total. Baudrillard menyatakan, bahwa dalam masyarakat transparansi total, bahkan kritik pun dapat diserap dan dijadikan komoditas (Baudrillard, 1990/1993). Artinya, asketisme pun bisa menjadi gaya hidup; spiritualitas bisa menjadi industri; dan puasa bisa menjadi tren musiman yang dirayakan pusat perbelanjaan melalui diskon Ramadan. Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas, bulan puasa diiringi ledakan iklan, promosi makanan, dan festival belanja. Puasa yang seharusnya mengurangi konsumsi justru berakhir dengan puncak konsumsi saat berbuka dan menjelang hari raya. Secara sosiologis, ini menunjukkan ambivalensi praktik religius dalam masyarakat kapitalis. Puasa menjadi momen spiritual sekaligus momentum ekonomi.

Namun demikian, bukan berarti puasa kehilangan makna. Justru di tengah paradoks inilah potensinya muncul. Baudrillard menulis bahwa sistem simulasi rentan terhadap ironi dan pembalikan (reversibility). Dalam hiperrealitas, tindakan kecil dapat memiliki efek simbolik yang tak terduga. Puasa yang dijalani dengan kesadaran reflektif dapat menjadi ruang kontemplasi yang melampaui performativitas.

Berpuasa bersama pemikiran Baudrillard berarti menyadari bahwa lapar bukan sekadar absennya makanan, tetapi juga absennya tanda. Ia merupakan latihan membedakan antara kebutuhan dan hasrat yang direkayasa. Ia merupakan jeda dari arus konsumsi simbolik. Dalam keheningan lapar, subjek berhadapan dengan dirinya sendiri, tanpa filter, tanpa simulasi.

Secara teoretis, kita dapat melihat puasa sebagai bentuk “strategi fatal” (fatal strategy) yang dibicarakan Baudrillard, yakni membiarkan sistem berjalan hingga mencapai titik ekstremnya, lalu membalikkannya melalui ironi. Jika kapitalisme mendorong konsumsi tanpa batas, puasa adalah pembatasan radikal. Jika media sosial mendorong eksposur total, puasa dapat menjadi praktik invisibilitas, menahan diri dari eksibisi digital.

Pada akhirnya, puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan eksperimen sosiologis. Ia menguji sejauh mana kita masih memiliki otonomi atas tubuh dan hasrat kita. Di tengah dunia yang menurut Baudrillard telah tenggelam dalam simulasi, puasa merupakan upaya kembali pada pengalaman yang paling elementer: rasa lapar, waktu yang melambat, dan kesadaran akan keterbatasan.

Mungkin, di situlah letak makna terdalam puasa dalam perspektif Baudrillard, bukan sebagai pelarian dari dunia, tetapi sebagai cermin yang memantulkan absurditas dunia. Dalam kekurangan, kita melihat keberlebihan; dalam diam, kita mendengar kebisingan; dalam lapar, kita menyadari betapa kenyang kita oleh tanda-tanda. Berpuasa bersama pemikiran Baudrillard berarti menahan bukan hanya makan dan minum, tetapi juga godaan hiperrealitas. Ia merupakan latihan membedakan yang nyata dari yang lebih-nyata-dari-nyata. Dan dalam latihan itu, kita mungkin menemukan kembali sesuatu yang lama hilang; kesadaran akan batas-batas tubuh, batas hasrat, dan batas dunia yang terlalu penuh oleh citra. (*)