Oleh: Dr. Ir. Muhammad Assagaf, M.Si. 

________

PLASTIK telah lama dipuja sebagai simbol kemajuan: ringan, murah, dan serbaguna. Namun di balik kepraktisannya, plastik menyimpan ancaman serius yang kerap luput dari perhatian publik ancaman terhadap kesehatan manusia. Selama ini, perbincangan mengenai polusi plastik lebih sering berhenti pada isu sampah laut dan mikroplastik. Padahal, bahaya terbesar justru datang dari sesuatu yang tidak terlihat: emisi beracun sepanjang siklus hidup plastik.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam The Lancet Planetary Health memperingatkan bahwa jika tren produksi plastik saat ini terus berlanjut, dampak kesehatan global akibat plastik dapat meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2040. Temuan ini menegaskan bahwa plastik bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan krisis kesehatan masyarakat berskala global.

Yang patut digarisbawahi, sumber utama bahaya tersebut bukan hanya sampah plastik di alam. Hampir 99 persen plastik diproduksi dari bahan bakar fosil. Sejak tahap ekstraksi minyak dan gas, proses manufaktur, transportasi, daur ulang, hingga pembuangan, plastik melepaskan berbagai polutan berbahaya. Emisi gas rumah kaca, partikel halus pencemar udara, serta bahan kimia beracun dilepaskan secara terus-menerus dan berdampak langsung maupun tidak langsung pada kesehatan manusia.

Dampak langsungnya mencakup meningkatnya risiko penyakit pernapasan, kardiovaskular, hingga kanker. Sementara itu, dampak tidak langsung muncul melalui kontribusi plastik terhadap perubahan iklim, yang pada gilirannya memperburuk krisis kesehatan global mulai dari gelombang panas ekstrem hingga penyebaran penyakit berbasis lingkungan.

Studi tersebut menggunakan indikator Disability-Adjusted Life Years (DALY), ukuran standar kesehatan masyarakat yang menghitung tahun kehidupan sehat yang hilang akibat penyakit atau kematian dini. Hasilnya mencengangkan. Pada tahun 2016 saja, emisi dari siklus hidup plastik diperkirakan menyebabkan hilangnya sekitar 2,1 juta tahun kehidupan sehat secara global. Dalam skenariobisnis seperti biasa”, angka ini melonjak menjadi lebih dari 4,5 juta tahun pada 2040 lebih dari dua kali lipat dalam waktu kurang dari seperempat abad.

Ironisnya, bahkan dalam skenario paling optimistis dengan peningkatan daur ulang, pengelolaan limbah yang lebih baik, dan pengurangan konsumsi beban kesehatan akibat plastik tetap meningkat. Artinya, solusi teknis semata tidak cukup. Masalahnya bersifat struktural dan berakar pada produksi plastik baru yang terus meningkat.

Realitas ini terlihat jelas di berbagai belahan dunia. Di Louisiana, Amerika Serikat, kawasan yang dijulukiCancer Alleymenjadi contoh ekstrem bagaimana konsentrasi industri petrokimia dapat berbanding lurus dengan lonjakan risiko kanker. Namun alih-alih dikurangi, produksi plastik global justru diproyeksikan hampir tiga kali lipat pada 2060. Tanpa perubahan kebijakan yang tegas, biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat akan semakin besar.

Lebih mengkhawatirkan lagi, angka-angka tersebut kemungkinan masih merupakanpuncak gunung es”. Studi ini belum memasukkan dampak mikro dan nanoplastik dalam tubuh manusia, serta paparan bahan kimia berbahaya yang dapat larut dari produk plastik dalam penggunaan sehari-hari. Dengan kata lain, beban kesehatan sebenarnya bisa jauh lebih besar dari yang saat ini terukur.

Ancaman ini menjadi jauh lebih relevan bagi kota-kota pulau kecil seperti Kota Ternate. Sebagai kota kepulauan dengan wilayah daratan terbatas dan ketergantungan tinggi pada ekosistem pesisir, Ternate berada di garis depan dampak polusi plastik. Sampah plastik yang masuk ke laut tidak hanya mencemari perairan, tetapi juga merusak rantai makanan laut yang menjadi sumber protein utama masyarakat.

Lebih jauh, keterbatasan lahan membuat sistempengelolaan sampah di kota pulau kecil sangat rentan. Pembakaran terbuka plastik yang masih lazim terjadi akibat minimnya fasilitas pengolahan melepaskan partikel berbahaya ke udara. Dalam konteks kepadatan permukiman pesisir, paparan polutan ini secara langsung meningkatkan risikopenyakit pernapasan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Dampak kesehatan tersebut juga berkaitan erat dengan aspek ekonomi lokal. Perikanan dan pariwisata bahari, dua sektor penting bagi Ternate, sangat sensitif terhadap pencemaran plastik. Ketika laut tercemar, pendapatan nelayan menurun, keamanan pangan terganggu, dan tekanan sosial-ekonomi meningkat yang pada akhirnya memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

Sumber : Jeannette Cwienk, (2026)

Ironisnya, bahkan dalam skenario global paling optimistis dengan peningkatan daur ulang dan pengelolaan limbah, dampak kesehatan plastik tetap meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan hilir semata tidak cukup. Pengurangan produksi plastik baru menjadi kunci utama.

Bagi kota pulau kecil seperti Ternate, upaya ini harus diterjemahkan dalam kebijakan lokal: pengurangan plastik sekali pakai, penguatan sistem guna ulang, serta pengendalian pembakaran sampah. Namun, tanggung jawab tidak bisa dibebankan hanya pada pemerintah daerah. Tanpa kebijakan nasional dan global yang tegas untuk menekan produksi plastik dari hulu, kota-kota kecil akan terus menanggung dampak yang tidak sebanding dengan kontribusinya terhadap masalah.

Polusi plastik bukan lagi ancaman abstrak di masa depan. Ia hadir di udara yang kita hirup, makanan laut yang kita konsumsi, dan kesehatan masyarakat pesisir yang kian rentan. Bagi kota pulau kecil, krisis ini bukan hanya soal lingkungan melainkan soal bertahan hidup.

Karena itu, fokus kebijakan harus bergeser dari sekadar mengelola sampah menuju pengurangan produksi plastik sejak hulu. Mengurangi plastik baru tidak berarti mengganti plastik dengan material lain secara serampangan, melainkan menghilangkan produk yang tidak esensial, memperluas sistem guna ulang, dan memastikan plastik hanya digunakan ketika benar-benar tidak ada alternatif yang lebih aman.

Polusi plastik bukan lagi ancaman masa depan. Ia adalah krisis hari ini yang perlahan menggerogoti kualitas hidup manusia. Jika kesehatan publik benar-benar menjadi prioritas, maka keberanian politik untuk menekan produksi plastik tidak bisa lagi ditunda(*)