Tandaseru – Laut Halmahera Selatan mungkin tampak luas dan tak bertepi, namun bagi Yadzali Andi Mattara dan Muhammad Fauzi Andi Mattara, setiap jengkal ombak adalah harapan. Sudah tiga hari lamanya, kedua putra Dr. Wildan Mattara, SS., M.Hum, dosen Universitas Khairun yang hilang dalam kecelakaan kapal, ini tidak membiarkan raga mereka beristirahat lama.

Sejak fajar menyingsing hingga senja meredup, laut menjadi ruang tunggu yang menyesakkan sekaligus tempat mereka menggantungkan asa terakhir.

Bagi Yadzali dan Fauzi, pencarian ini bukan sekadar operasi SAR. Ini adalah perjalanan batin menjemput sosok yang paling mereka cintai, dalam kondisi apa pun.

Mata yang Menolak Menyerah

Di atas rubber boat Marnit Polairud Bacan yang membelah perairan Desa Lemo-Lemo, Yadzali berdiri tegak. Matanya menyisir permukaan air dengan ketajaman yang dipicu oleh kerinduan. Sesekali ia terdiam, menatap kosong ke arah cakrawala, seolah menanti laut mengembalikan separuh jiwanya. Di titik lain, Fauzi berada di atas kapal pengawas KPLP bersama pimpinan Universitas Khairun (Unkhair), menyusuri perairan Saketa hingga ke batas pandang.

Tak ada guratan lelah yang mereka keluhkan, meski tubuh dihantam angin laut dan terik matahari yang menyengat. Hati mereka jauh lebih lelah menanggung ketidakpastian, namun menolak untuk menyerah.

Teknologi Menembus Kedalaman 80 Meter

Pencarian hari ketiga, Minggu (25/1/2026), memang bukan pencarian biasa. Unkhair mengerahkan segala daya, termasuk teknologi canggih untuk membantu tenaga manusia yang mulai terbatas oleh alam. Di titik awal kejadian, sebuah drone bawah air (ROV) diturunkan ke kedalaman yang diperkirakan mencapai 80 meter.

Di sana, di ruang laut yang gelap dan bertekanan tinggi, alat itu menjadi perpanjangan mata bagi tim dan keluarga. Sementara itu, DJI Mavic terus berdengung di udara, memetakan garis pantai dan permukaan laut yang tak terjangkau oleh pandangan dari dek kapal.

Dr. M. Ridha Ajam, M.Hum., Ketua Tim Unkhair, mengakui kondisi dasar laut di perairan tersebut sangat ekstrem.

“Arus bawah laut dan gelombang tinggi menjadi tantangan berat. Kami menggunakan teknologi untuk membaca apa yang tidak bisa dijangkau oleh penyelaman manual,” ujarnya.

Satu Tujuan di Tengah Badai

Keterlibatan anak-anak Dr. Wildan dalam tim pencarian memberikan atmosfer yang emosional bagi seluruh personel. Dari Basarnas, Polairud, TNI, hingga warga sipil, semua bergerak dalam satu ritme yang sama: membawa pulang sang dosen.

Namun, alam Halmahera kembali menunjukkan kuasanya. Sore itu, sekitar pukul 15.30 WIT, angin menguat dan ombak mulai meninggi. Keamanan tim menjadi prioritas utama. Dengan berat hati, operasi pencarian di bawah permukaan laut harus dihentikan sementara dan akan dilanjutkan esok hari.

Hingga matahari terbenam di ufuk barat Halsel, laut masih menyimpan rahasianya. Namun bagi Yadzali dan Fauzi, penghentian sementara ini hanyalah jeda untuk mengumpulkan tenaga dan doa yang lebih kuat. Mereka akan kembali besok, lusa, dan kapan pun dibutuhkan, sampai laut menyerahkan apa yang selama ini mereka cari.

Sore itu, pencarian ditutup dengan langit yang mendung, namun api harapan di dada putra-putra Dr. Wildan tetap menyala, menunggu fajar baru untuk kembali menyapa ombak.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter