Tandaseru – Kasus terputusnya konektivitas dasar di kecamatan Loloda Utara, Halmahera Utara, Maluku Utara, yang baru-baru ini merenggut nyawa seorang guru SD dari desa Ngajam, menuai kritik tajam peneliti dan akademisi.
Peneliti Determinan Foundation yang juga mahasiswa doktoral di Amerika Serikat, Rusydan Arby, menyebut insiden ini sebagai indikasi kegagalan negara dan pemerintah daerah dalam memastikan akses dasar bagi warga di wilayah terpencil. Selain itu, sebagai hasil kelalaian kebijakan yang berlangsung bertahun-tahun.
Rusydan mendesak perdebatan mengenai proyek-proyek besar yang dianggap tidak mendesak, seperti Trans Kieraha, dihentikan. Menurutnya, diskusi semacam itu justru menjauhkan perhatian dari persoalan yang benar-benar mendesak, yakni hadirnya pemerintah untuk masyarakat yang jauh dari pelayanan dasar.
Prioritas Pembangunan Harus Bergeser
Mengacu pada perspektif Equity Planning yang dicetuskan Norman Krumholz, Rusydan menekankan bahwa kelompok yang paling rentan seharusnya menjadi prioritas utama pembangunan. Namun, ia menilai Loloda dan wilayah-wilayah lain dengan akses terbatas dan risiko tinggi justru tidak pernah menempati posisi strategis dalam agenda kebijakan.
“Jalan dan jembatan yang terputus dibiarkan menunggu, sementara perhatian pemerintah terserap pada proyek-proyek besar yang tidak mendesak,” ungkapnya, Jumat (12/12/2025).
Ia menyerukan agar diskusi dialihkan ke program yang tepat sasaran dan menyentuh kebutuhan riil masyarakat, terutama dalam perbaikan akses yang melindungi dan menyelamatkan warga.
Anggaran Harus Mengikuti Urgensi Program
Rusydan juga menyoroti masalah fiskal daerah yang dinilainya tidak akan pernah selesai jika perencanaan tidak dimulai dari kebutuhan paling kritis.
“Anggaran harus mengikuti urgensi program, bukan program yang dipaksa menyesuaikan anggaran,” tegasnya.
Jika logika perencanaan ini tidak diubah, ia khawatir pembangunan daerah akan terus berjalan dalam pola yang tidak adaptif dan tidak responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Negara Tak Boleh Lagi Abai
Kasus meninggalnya guru SD asal Desa Ngajam di Loloda Utara akibat terputusnya konektivitas dasar menjadi sorotan utama. Rusydan menegaskan, tragedi ini harus menjadi momentum bagi semua pihak untuk membuka mata.
“Negara tidak boleh lagi abai terhadap konektivitas dasar. Prioritas utama harus diberikan pada perbaikan akses yang melindungi dan menyelamatkan warga, sebelum korban berikutnya jatuh,” tutupnya, seraya mengingatkan bahwa kualitas pembangunan sejati terletak pada peningkatan kualitas hidup manusia, bukan sekadar nilai ekonomi.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.