Tandaseru – Morotai, sebuah permata di Samudra Pasifik dengan luas 2.476 km persegi, dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga sebagai saksi bisu pertempuran heroik dan kelam Perang Dunia II. Namun, di tengah kekayaan sejarah yang pernah menjadi panggung utama pertempuran antara tentara Jepang dan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Douglas McArthur pada tahun 1944, warisan dunia ini kini berpotensi perlahan hilang dan terlupakan.
Kekayaan sejarah yang menjadi daya tarik utama wisata sejarah di Morotai—mulai dari peninggalan Perang Dunia II hingga Trikora—terutama tersimpan di dua situs swadaya di Desa Joubela dan Muhajirin Baru, Kecamatan Morotai Selatan. Kedua “museum” swadaya ini dipenuhi koleksi benda bersejarah seperti senjata, peluru, dan artefak lainnya yang dikumpulkan dengan penuh dedikasi oleh warga lokal, Muhlis Eso dan Fadli Alting.
Suara Jurnalis untuk Warisan Dunia
Menyadari pentingnya pelestarian, para wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Morotai (AJM), dipimpin Mikram Duwila, mengunjungi lokasi swadaya tersebut pada Jumat (28/11/2025).

Mikram, yang menyebut Morotai sebagai “aset dunia tersembunyi,” menegaskan bahwa tidak semua pulau di Indonesia memiliki sejarah Perang Dunia yang begitu mendalam.
“Kekayaan sejarah perang dunia II adalah aset dunia tersembunyi di Pulau Morotai,” ujar Mikram.
Ia menekankan bahwa posisi geografis Morotai yang strategis, berbatasan langsung dengan Pasifik, menjadikannya kunci geopolitik penting selama Perang Pasifik.
Sebagai Ngopa Morotai (anak Morotai) dan para jurnalis yang bertugas, Mikram mengajak semua pihak untuk menjaga situs sejarah ini, termasuk peninggalan di bawah laut, tank amfibi, hingga lapangan udara bekas pertempuran Sekutu.
“Kita harus jaga. Supaya apa, menarik pariwisata lokal dan mancanegara terus berkunjung ke Morotai,” tambahnya.
Apresiasi khusus diberikan kepada Muhlis Eso dan Fadli Alting karena berkat kegigihan merekalah wisatawan mancanegara terus berkunjung ke situs swadaya PD II.
Jeritan Para Penjaga Sejarah
Muhlis Eso, pemilik Museum Swadaya PD II di Desa Joubela, yang mayoritas temuannya adalah sisa-sisa alat peperangan Amerika Serikat, mengungkapkan apresiasinya atas kunjungan para wartawan. Ia memiliki misi besar untuk generasi penerus: ia ingin situs swadaya miliknya menjadi tempat bagi siapa pun yang ingin belajar, menulis sejarah, dan membuat karya ilmiah tentang PD II.
“Supaya saya bisa titipkan pada generasi penerus bangsa dan bisa membuktikan ke dunia internasional bahwa Morotai pernah diduduki oleh eks Perang Dunia II melawan Jepang di Morotai,” ucap Muhlis.
Bekerja sebagai petani, Muhlis hanya berharap agar pemerintah – dari pusat hingga daerah – menaruh perhatian lebih. Ia memohon agar museumnya, yang saat ini hanya berupa gubuk kecil, dapat direnovasi agar artefak sejarah tersebut dapat terpelihara lebih baik.
Harapan serupa datang dari Fadli Alting, pemilik Swadaya PD II di Desa Muhajirin Baru. Ia sangat mendambakan legalitas bagi gubuk sederhananya sebagai museum swadaya.
“Saya cuma berharap Dinas Pendidikan dan Pariwisata bisa pasang papan nama. Supaya orang tahu ini museum apa begitu,” harap Fadli.
Fadli mengaku masih banyak peninggalan Perang Dunia II di hutan Morotai yang belum ia bawa karena keterbatasan tempat. Kekhawatiran akan status hukum koleksinya juga menjadi kendala.
“Saya takut jangan sampai ada yang bilang ilegal terus disita. Tapi kalau ada papan nama kan berarti sudah resmi, jadi memang minta ada dukungan pemerintah terkait itu saja,” tutupnya, menyerukan dukungan untuk melindungi dan memamerkan warisan sejarah dunia ini.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.