“Di masa depan, Kepulauan Widi diharapkan menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara termasuk pula wisatawan lokal yang berkunjung ke tempat ini dengan berbagai motivasi yang melatarinya. Ada yang sekadar mengisi waktu senggang di tengah kesibukan rutinitas, kajian dan riset ataupun minat khusus lainnya (special interest),” papar Nazlatan.
Ada hal menarik dari yang disebutkan terakhir ini, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Provinsi Maluku Utara memiliki keunikan tersendiri yang tentu tak sama dengan Bali ataupun daerah lainnya dalam urusan destinasi. Hal demikian membuat Maluku Utara menjadi spesial yang melatari motif kunjungan para wisatawan mancanegara khususnya, di antaranya adalah kekayaan kenekaragaman hayati (biodiversity) yang menjadi alasan tersendiri yang mampuh mendorong minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke provinsi yang kaya akan sejarah dan keanekaragaman sumber daya alamnya tersebut.
“Sebut saja untuk tematik tertentu yang mampu menjadikan provinsi ini memiliki daya tarik yang istimewa dari daerah-daerah lainnya di Nusantara seperti wisata minat khusus yang berkaitan dengan wisata ilmiah atau napak tilas jejak ilmuan dunia yang menjadikan daerah ini sebagai bagian yang diperhitungkan dalam sejarah ilmu pengetahuan modern (sejarah alam dan biologi modern, etnografi, culture study, antropologi, dan lain-lain) hingga para penjelajah yang pernah menyinggahi berbagai pulau di provinsi ini. Selain nama yang begitu populer dikenal dunia seperti Alfred Russel Wallace seorang naturalis dari Inggris (baca The Malay Archipelago), Heinrich Agathon Bernstein seorang naturalis dan penjelajah asal Jerman (baca Natural History Museum, Leiden), Antonio Pigafetta seorang ilmuan dan penjelajah dari Itali (baca The First Voyage Round The World by Magellan), Thomas Forrest asal Britania Raya (baca A Voyage to New Giinea and the Moluccas 1774-1776), dan masih banyak lagi lainnya,” terang Nazlatan.
Dalam kaitannya dengan Widi Coastal Festival (WCF), hal tersebut merupakan peluang guna meningkatkan nilai tambah dan perluasan rantai nilai (value chain), proses produksi serta distribusi dari pengelolaan aset dan akses potensi sumber daya alam (SDA), geografis, wilayah dan sumber daya manusia melalui penciptaan kegiatan ekonomi yang terintegrasi dan sinergis dalam sistem zonasi pertumbuhan ekonomi daerah.
“Di lain segi juga ikut mendorong terwujudnya peningkatan efisiensi dan efektivitas produksi dan pemasaran serta interaksi pasar lokal, nasional dan global dalam rangka penguatan daya saing. Dan, tak kalah pentingnya lagi adalah ikut mendorong penguatan sistem inovasi dari sisi produksi, proses dan pemasaran untuk penguatan daya saing serta sinergis dengan prinsip ekonomi berkelanjutan berbasis kearifan lokal, budaya dan lingkungan ekologis,” ujar Nazlatan.
Dalam kaitannya dengan dunia kepariwisataan, pariwisata adalah dunia industri, oleh sebab itu diperlukan gagasan baru yang kreatif dan inovatif yang mampu menjawab dinamika dan problematika persoalan kepariwisataan masa kini sembari menemukan peluang di masa akan datang untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup masyarakat tempatan tentunya.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.