“Tentu untuk memutuskan merantau adalah cara terbaik untuk memperbaiki kualitas batin kita sendiri,” tuturnya.

Melalui Juanga Culture, agenda kebudayaan perlahan-lahan dibentuk.

“Seperti yang dilihat semalam, bagaimana anak-anak sekolah seni, mereka menampilkan sebuah persembahan musik orkestra dan Fusion Band, atau dikenal dengan kelompok Armada Bajak laut yang luar biasa. Ada sekitar 32 penampil anak-anak SMM Kasihan Bantul. Mereka semua menampilkan alat yang sesuai dengan jurusan yang mereka ambil, mulai dari biola, saksofon, gitar, drum, klarinet, bas betot, trombon, suling, fagot, semua alat musik tersebut ditampilkan dalam acara semalam. Semua itu mereka bisa mainkan berkat Pak Ganif sebagai konduktor. Semua mereka tampilkan dengan apik dan dinikmati oleh para pengunjung yang hadir,” terang Sadam.

Secara pribadi, kata Sadam, Juanga Culture dibangunnya sebagai sumber pengetahuan dan aplikasi terhadap pengetahuan, misalnya kuliner, budaya, musik, politik, pangan, sosial, ekonomi, yang punya hubungan dengan kultur orang Maluku Utara.

“Harapan terbesar rumah budaya Juanga Culture adalah memiliki bangunan permanen secara fisik untuk bisa melancarkan kreativitas yang kami bangun secara bersama. Semoga harapan itu bisa terwujud secara nyata,” ujarnya.