Tapi di Kota Tidore Kepulauan, kemungkinan sangat bagus ketika perempuan berada pada posisi pimpinan. Dalam proses distribusi, para penikmat kopi di Tidore sudah familiar dengan kopi rempah. Karena di Tidore tidak ada petani kopi, anak-anak muda milenial lebih memilih membuka warung kopi kecil di pinggir jalan. Warung tersebut tidak ada kopi rampah, tapi yang ada hanya kopi es yang diracik bermacam-macam warna kopi.
Persaingan ini hampir terjadi di belahan Maluku Utara, bahwa pebisnis kopi dan pemilik kedai kopi berperan aktif untuk menarik konsumen agar bertahan dengan produknya.
Namun ada salah satu kedai Rumah Tua Literasi, Indonesiana dari tahun 2020 sampai saat ini, kopi robusta dengan gaya racikan yang praktis masih hidup dan memberikan spirit kepada kaum muda, komunitas, dan literasi untuk terus menikmati kopi. Rumah Tua yang sederhana itu, banyak menginspirasi anak-anak muda dalam berkarya.
Dinamika Rumah Tua dengan kopi khasnya, memiliki arti beragam dalam menyatukan ide dan gagasan membangun kepemimpinan, menguji kesadaran, membentuk sikap dan etika ber-Bhineka Tunggal Ika.
Untuk mendapatkan kopi Rampah Marasai, warga atau anak muda di Tidore membeli dengan cara telepon ke nomor yang tertera di bungkusan kopi dengan harga Rp 40 ribu per bungkus. Namun, untuk menditrisbusikan ke luar Maluku Utara, membutuhkan waktu agar bisa terkonfirmasi secara baik dengan konsumen yang ingin pesan.
Hadinda mengakui, sebagian besar produknya belum tersebar di warung Pantai Tugulufa, karena masih menunggu hasil konfirmasinya ke rumah oleh-oleh.
“Saya akan segera melakukan pengurusan izin di Dinas Perizinan Tidore, sebab saya sudah mengikuti bimtek pangan, jadi tinggal izin produk lainnya,” lanjutnya.
Rencana mengambil biji kopi di Kabupaten Halmahera Timur untuk diracik dengan rempah. Kehendak tersebut belum bisa teralisasi, karena berbagai pertimbangan proses pembuatannya tidak mengganggu dan ribet diracik, serta mempermudah diproduksi. Sebab menggunakan biji, mestinya ada alat penghancur kopi, sedangkan dirinya tidak ada alat terebut.
“Makanya saya lebih baik pesan dengan serbuknya saja, nanti kita racik sendiri,” tambahnya.
Demi mempertahankan brand Coffee Rampa Marasai, diharapkan ada kolaborasi di antara sesama penggagas prodak lokal di Kota Tidore Kepulauan agar saling menjaga nama baik. Rasa boleh berbeda, tetapi kopi bisa menyatukan kita, walaupun pahit. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.