Oleh: Mansyur Armain
Jurnalis dan Pegiat Literasi Folila
______
PEREMPUAN yang hari-harinya sebagai seorang guru di Madrasah Aliyah Doworah adalah Hadinda Usman. Ia keluar dari ruang tamu dengan wajah yang sakit. Memakai cipu dan kain. Raut wajahnya sedikit menggigil. Tubuhnya kurang sehat. Akibat beberapa waktu lalu, dia mengalami musibah saat terjatuh dari sepeda motornya.
Saya mengunjunginya Senin 28 Februari 2022 malam lalu untuk membeli kopi rampah hasil produknya. Kopi tersebut bernama Coffee Rampa Marasai. Arti dari Marasai adalah tenang, adem, dan nyaman ketika orang tersebut ingin bersama dengan kita. Saya tiba di rumahnya usai salat Isya. Rumahnya berada di samping lampu merah Kelurahan Goto, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara. Kedatangan saya itu sekaligus melakukan wawancara tentang produk kopi rempah buatannya.
Di rumahnya, perempuan yang biasa disapa Ma De itu, menunjukkan tangan kiri penuh luka, bengkak, di beberapa tubuh terasa sakit.
Ketika berada di teras rumah, ia mengeluarkan 4 bungkus produk kopi rampah yang sudah dibungkus. Dia mengungkapkan, sebenarnya ide untuk membuat kopi rampah sejak tahun 2021 yang lalu.
Sebelumnya, ia mempunyai pengalaman luas tentang membuat prodak yang bahan olahannya terbuat dari berbagai jenis kekayaan alam di Kota Tidore Kepulauan.
Menurutnya, pengalaman tersebut saat mengikuti Bimbingan Teknis pada pameran produk olahan industri rumahan di Pulau Maitara, Kota Tidore Kepulauan beberapa tahun lalu.
“Waktu itu, produk yang pertama keluar ada tentang penyedap rasa. Ia pengganti Royco, vetsin, dan sebagianya. Daripada itu, muncul lagi ide dan gagasan untu memulai mencoba membuat kopi yang diracik dengan bahan rempah,” tutur Hadinda.
Kita sering dan amat sering menikmati kopi rampah. Saya misalnya, sering minum kopi rampah (rempah) di Kalaodi. Walaupun tidak langsung dari bubuk, namun ada racikan dari Ci Astrid Hasan dengan campuran pala, cengkeh, kayu manis, daun pandan, dan guraka.
Tak hanya itu, kopi rampah Kalaodi ketika kita menikmati di waktu sore atau saat tiba kabut turun di perkampungan menambahkan kehangatan rasa, rindu yang ekologis. Hal itu, kopi rampah Kalaodi memberikan inspirasi, ketekunan, dan ketenangan yang mulia. Kita harus merdeka. Mempertahankan nilai-nilai lokalistik adalah cara hidup merawat hutan.
Melihat lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, membuat masyarakat mulai membuka warung-warung kopi, kedai kopi, dan kafe. Namun hanya beberapa kedai kopi yang menyediakan kopi rampah. Biasanya kita temukan di sepanjang pantai Tugulufa.
Coffee Rampa Marasai di dalamnya terdapat campuran seperti guraka, kayu manis, pala, cengkeh, dan daun pandan.
“Kalau kopi, saya pesan langsung dari Gresik dalam bentuk sudah dihaluskan dan terbungkus. Dan seharusnya pakai biji kopi, namun terlalu ribet sehingga dipesan saja kopi bubuk,” kata Hadinda.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.