Menurutnya, penyakit tersebut bisa menular. Proses penularan sendiri terjadi dengan berbagai cara, diantaranya melalui darah, jarum suntik, ASI, serta hubungan seksual.
Malik mengaku, pasien HIV/AIDS di Kota Tidore Kepulauan ini adalah pasien yang usia produktif atau rata-rata 18 tahun ke atas.
“Dari data yang ada memang ibu rumah tangga paling banyak. Hal ini karena mungkin suami yang sering jajan di luar, akhirnya istri juga tertular,” terangnya.
Selain ibu rumah tangga, dari data tersebut ada juga dari kalangan wiraswasta, nelayan, mahasiswa hingga PNS.
“Kalau dari 2020 itu ada satu mahasiswa, begitu juga di 2021 ada juga satu mahasiswa, kalau PNS data sebelumnya,” katanya.
Menurutnya, banyak masyarakat yang selama ini berpikiran salah mengenai cara penularan itu, misalnya melalui sentuhan.
Akibatnya, mereka menjauhi para penderita HIV. Hal tersebut, lanjut Malik, akan semakin membuat penderita HIV tertekan karena dikucilkan.
Malik menjelaskan, rata-rata penderita HIV tidak mengetahui kalau dirinya mengidap. Sebab, mereka tidak memeriksakan diri ke dokter.
Rata-rata mereka baru tahu kena jika HIV sudah menjadi AIDS.
Padahal, saat HIV sebelum menjadi AIDS proses penularan masih terbilang bisa teratasi dibandingkan sudah menjadi AIDS.
Malik berharap agar para pengidap rutin melakukan pemeriksaan serta rutin meminum obat yang diberikan.
“Kebanyakan ini ada yang sudah tidak mau lagi meminum obat, karena obat itu mereka harus minum hingga seumur hidup, jadi kadang membuat mereka jenuh. Padahal, hal itu salah satu upaya agar mereka tidak menularkan ke orang lain,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.