Sekilas Info

Harta Karun Bawah Laut di Maluku Utara Itu Bernama Walking Shark

Walking shark atau gorango haga (hemiscyllium Halmahera). (Istimewa)

Tandaseru -- Provinsi Maluku Utara dikenal kaya akan potensi bawah laut. Salah satu yang dikenal dunia saat ini adalah walking shark atau hiu berjalan yang kerap dijumpai di perairan Kota Ternate dan Halmahera.

Walking shark atau nama lokalnya gorango haga merupakan hewan endemik Maluku Utara yang ditemukan ilmuwan Australia, Gerrard Allen, pada 2008.

Allen menemukan gorango haga saat menyelam di Teluk Buli, Pulau Halmahera, namun baru dinyatakan endemik setelah Allen melakukan riset pada 2012.

Walking shark mudah ditemukan di titik penyelaman taman Falajawa di pusat Kota Ternate. Nurkhalis, peneliti Universitas Khairun Ternate menyatakan, tidak semua titik selam di Ternate dapat ditemukan hiu berjalan Halmahera.

"Hal ini sangat dipengaruhi adalah karakteristik habitat, sehingga tidak semua pesisir bisa ditemukan hiu berjalan Halmahera. Paling mudah ditemukan di pesisir peralihan antara padang lamun dengan terumbu karang,"ujar Nurkhalis.

Walking shark atau gorango haga (hemiscyllium Halmahera). (Istimewa)

Hewan ini memiliki warna dasar cokelat dengan sejumlah bintik gelap berbentuk poligon. Meski termasuk dalam jenis hiu, hemiscyllium Halmahera hanya memiliki panjang 68 sentimeter hingga 1,22 meter. Walking shark menggunakan sirip dada, panggul, dan punggung untuk merayap di pasir sehingga terlihat seakan-akan hewan ini tengah berjalan.

Di Kota Ternate, gorango haga paling mudah ditemui di pesisir pantai yang terletak di pusat kota, di kedalaman 2 sampai 3 meter. Sekali penyelaman, penyelam bisa menemukan 3 hingga 6 ekor walking shark. Sebagai hewan nokturnal, walking shark lebih mudah ditemukan pada penyelaman malam hari.

"Hiu berjalan Halmahera atau walking shark ini lebih memilih berjalan atau beraktivitas di malam hari untuk mencari makan. Jadi kalau siang hari dia lebih memilih untuk berdiam diri di balik batu karang. Makanannya adalah kepiting maupun udang," kata penyelam Nasijaha Diving Club, Adita agoes.

Walking shark atau gorango haga (hemiscyllium Halmahera). (Adita Agoes)

"Hiu berjalan halmahera tidak berenang seperti hiu pada umumnya namun dia dikenal dengan merayap menggunakan siripnya. Kalau di lokasi Pantai Taman Nukila kita sudah bisa menjumpai di jarak sekitar 30 meter, bisa dilihat 3-6 ekor."

Riset yang dilakukan Abdul Khalish A. Samaun, Ma’ruf Azis, Helmy Harsani, Suleman Abd. Radjak dan Iksan Dukomalamo pada 2016 menemukan habitat gurango buta-buta (begitu masyarakat Tidore menyebutnya) di 10 titik penyelaman di Tidore Kepulauan. Yakni di Dermaga Trikora Goto, Pantai Tugulufa, Dermaga Feri Dowora, Tanjung Seli, Perairan Soadara, Akesahu, Tanjung Tongolo, Tanjung Mareku, Ome dan Jou Boki Toloa

Sebagai hewan endemik, keberadaan walking shark di pesisir Ternate dan Tidore merupakan harta karun dunia bawah laut. Namun reklamasi yang 'getol' dilakukan pemerintah daerah Ternate beberapa tahun belakangan ini dikhawatirkan akan mengganggu habitat hiu berjalan hemiscyllium Halmahera.

Foto udara pesisir Pantai Falajawa, Ternate. (Istimewa)

Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Dr. Janib Haji Ahmad menyatakan, rekayasa pesisir pantai berupa reklamasi akan mengganggu pola arus yang berpengaruh pada migrasi biota laut. Karena itu pembangunan seharusnya juga mempertimbangkan aspek ekologi.

"Jadi perubahan pesisir itu punya korelasi dengan pola arus. Jadi kalau pesisir itu dirakayasa (reklamasi) maka terjadi perubahan pola arus, dan itu pasti akan mengganggu biota sehingga terjadilah perubahan," ucap Janib.

"Untuk itu yang dipikirkan oleh pengambil kebijakan adalah bagaimana mengidentifikasi perubahan biota endemik ini karena akan membawa pengaruh pada ekowisata di Ternate," tandasnya.

Dengan segala kekayaan alam di sana, sudah seharusnya pemerintah dan masyarakat kompak menjaga lingkungan, tujuannya apa lagi kalau bukan melindungi hiu-hiu lucu ini.

Penulis: Tim
Editor: Sahril Abdullah