Tandaseru — Calon wakil bupati Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, Hasan Ali Bassam Kasuba menyentil lambannya pembangunan infrastruktur pada masa pemerintahan Bupati Bahrain Kasuba (BK) dan Wakil Bupati Iswan Hasjim. Alih-alih membangun infrastruktur yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat, Bassam menilai Bahrain-Iswan justru lebih fokus mendirikan replika monumen nasional (monas) yang tak memiliki efek untuk warga Halsel.
Kepada tandaseru.com Bassam menuturkan, dasar pembangunan infrastruktur di Halmahera Selatan tidak terlepas dari program kerja 10 tahun lalu di masa pemerintahan Bupati dua periode, Muhammad Kasuba. Program kerja Muhammad Kasuba, yang tak lain adalah ayah kandung Bassam, sudah dituangkan dalam program pembangunan Halmahera Selatan.
“Jadi kalau kita berkaca dari pembangunan infrastruktur di Halmahera Selatan ini tidak terlepas dari program kerja 10 tahun sebelumnya. Di masa kepemimpinan Doktor Muhammad Kasuba,” tuturnya, Selasa (8/9).
Bassam menegaskan, selama satu periode kepemimpinan Bahrain-Iswan infrastruktur jalan dan jembatan di Halmahera Selatan tidak berjalan maksimal. Dia mencontohkan, beberapa daerah terisolir yang belum tersentuh infrakstruktur jalan adalah Kecamatan Bacan Timur Tengah, Pulau Mandoli, dan Pulau Kasiruta.
Warga kecamatan-kecamatan tersebut masih bergantung pada transportasi laut, padahal daerah ini merupakan daerah rawan ketika musim cuaca buruk. Bassam bilang, seharusnya dalam perencanaan sudah ada pembangunan akses jalan.
“Daerah Kaireu itu juga sudah seharusnya ada akses jalan penghubung, mulai jalan dan jembatannya, dan semua itu terkesan lambat selama 5 tahun ini. Belum lagi jalan Metro Sayoang yang kita lihat ditinggalkan terlantar seperti itu, tidak ada perawatan atau seperti apa posisinya,” jabarnya.
Bassam memaparkan, memang ada beberapa program pembangunan infrastruktur yang dilakukan Bahrain-Iswan dalam 5 tahun ini. Namun semua itu jauh dari harapan alias tidak berbanding lurus dengan janji keduanya ketika pertama kali mencalonkan diri.
“Untuk itu, ke depannya kami berkomitmen bahwa keterlambatan pembangunan itu akan dipercepat, sebab akses transportasi darat sangat penting untuk kemajuan ekonomi rakyat. Kita utamakan dulu untuk pembangunan jalan dalam rangka menopang ekonomi rakyat, karena kalau jalan ini sudah dibangun maka dengan sendirinya hasil pertanian masyarakat sudah bisa didistribusikan. Selama ini penjualan hasil alam masyarakat kita masih terkendala, untuk itu kita berharap ke depannya lebih baik lagi,” paparnya.
Lalu infrastruktur pasar yang merupakan penunjang utama ekonomi, pembangunan jalan Metro Habibi dan Pasar Saruma merupakan program kerja yang sudah dijalankan Muhammad Kasuba di periode kedua. Di mana anggarannya diambil dari pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang diberikan oleh pemerintah pusat. Pinjaman tersebut diberikan setelah pempus melihat pinjaman sebelumnya untuk pembangunan jalan Metro Sayoang berjalan dengan baik.
“Saya bahkan dengar langsung dari mulut beliau (Muhammad Kasuba, red) bahwa pembangunan pasar saat ini dan jalan Metro Habibi merupakan program kerja beliau dalam rangka mendukung ekonomi rakyat. Jadi semua ini sudah dijalankan oleh orang tua kami. Kalau saya menilai secara pribadi dari inovasi pembagunan oleh petahana belum ada sih,” tukas Bassam.
Bassam juga menyentil pembangunan tugu monas oleh Bahrain yang tak lain adalah sepupunya sendiri itu. Dia bilang, pendirian tugu monas tidak masuk dalam rancangan daerah dan agenda pembangunan infrastruktur daerah. Bahkan fungsi dan manfaatnya tidak berdampak kepada masyarakat Halmahera Selatan secara langsung.
“Tugu monas itu manfaatnya lebih ke pariwisata lah, tidak berdampak langsung kepada masyarakat kita saat ini,” ujarnya.
Padahal sebagai pemerintah harusnya dalam mengurusi pembangunan lebih memikirkan aspek yang berdampak langsung kepada kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Karena bagaimanapun anggaran yang kita pergunakan adalah uang masyarakat, bukan anggaran pripadi seorang bupati ataupun wakil bupati. Pembangunan di Halsel saat ini tidak memikirkan hal-hal tersebut,” sentilnya.
Bassam yang dalam Pilkada 2020 ini berpasangan dengan Usman Sidik menyatakan akan lebih fokus membangun infrastruktur sesuai kebutuhan masyarakat. Mengingat monografi dan topografi Halsel adalah daerah kepulauan, di mana sebagian besar akses yang digunakan adalah akses laut, maka pelabuhan juga akan dikembangkan Usman-Bassam dengan baik.
Bassam memberi contoh, pembangunan pelabuhan peti kemas di Pelabuhan Babang saat ini hanya bisa didarati 15 peti kemas. Ke depan, pelabuhan tersebut akan dikembangkan lebih besar lagi, sehingga bisa menarik investor untuk masuk membeli hasil rempah di Halmahera Selatan.
“Kalau investor itu mereka rata-rata mengambil hasil rempah dengan jumlah besar, maka daerah harus menyediakan infrastruktur pendukung yang layak. Saya sudah bicarakan dengan beberapa tetua-tetua kami di Babang bahwa banyak sekali investor yang mau masuk namun terkendala pelabuhan,” terangnya.
Bassam menegaskan, anggaran bidang pembangunan infrastruktur sudah disediakan pemerintah pusat dalam jumlah yang cukup besar. Tinggal pemerintah daerah yang sigap melakukan lobi-lobi ke pusat untuk mendatangkan anggaran tersebut ke daerah.
“Saya dan Pak Bupati Usman akan fokus ini untuk berkoordinasi dengan pemerintah pusat, karena semua pembangunan tidak bisa kita bebankan ke APBD,” tandas Bassam.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.