Tandaseru — Pemerintah Kota Tidore Kepulauan menegaskan komitmennya dalam melakukan transformasi ekonomi berbasis potensi lokal melalui penguatan sektor hilirisasi.

Upaya ini disampaikan langsung oleh Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan, Ahmad Laiman, dalam ajang Business and Investment Forum Tidore & Ternate yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

​Dalam forum bertajuk “Transformasi Jalur Rempah melalui Hilirisasi” tersebut, Ahmad memaparkan visi strategis untuk mengembalikan kejayaan Tidore sebagai titik nol jalur rempah dunia dalam versi yang lebih modern. Ia menekankan bahwa pembangunan ekonomi di Tidore tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan angka, tetapi juga wajib menjaga keadilan ekologi.

​”Kami memfokuskan pertumbuhan pada tiga sektor unggulan: pertanian rempah, perikanan kelautan, dan pariwisata berbasis konservasi. Sebagai daerah penyangga, Tidore siap menyediakan lahan dan akomodasi untuk mendukung kemajuan Maluku Utara, namun tetap menjaga keanekaragaman hayati,” ujarnya di hadapan para calon investor.

​Berdasarkan data yang dipaparkan, Tidore memiliki kekayaan komoditas yang melimpah, di antaranya produksi kelapa sebesar 9.566 ton, pala 299 ton, dan cengkeh 265 ton per tahun. Di sektor kelautan, potensi ikan cakalang dan tongkol mencapai hampir 10.000 ton, yang membuka peluang investasi pada industri cold storage, pengolahan fillet tuna, hingga pembangunan galangan kapal.

​Direktur Kerja Sama Pelaksanaan Berusaha Kementerian Investasi, Hasyim Daeng Barang, yang turut hadir dalam acara tersebut, mendukung penuh langkah Pemkot Tidore. Menurutnya, sudah saatnya Maluku Utara beralih dari ketergantungan sektor pertambangan menuju hilirisasi perkebunan agar nilai tambah komoditas pala dan cengkeh dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal, bukan oleh daerah luar.

​Senada dengan hal itu, Direktur Promosi Wilayah Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, dan Pasifik, Saribua Siahaan, mengingatkan pentingnya digitalisasi perizinan untuk meningkatkan daya saing investasi di wilayah timur Indonesia. Dukungan juga datang dari Direktur Eksekutif APEKSI, Alwis Rustam, serta Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, Handi Susila, yang siap bersinergi dalam pembinaan UMKM agar produk lokal dapat menembus pasar global.

​Selain pemaparan bisnis, forum ini juga menampilkan sisi budaya melalui fashion show tenun khas Puta Dino Kayangan oleh Fomatika Jakarta. Penampilan ini menjadi simbol bahwa transformasi ekonomi yang diusung tetap berpijak pada akar budaya dan sejarah Kesultanan Tidore.

​Sebagai bentuk keseriusan, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan melalui DPMPTSP menjamin kemudahan perizinan bagi para pelaku usaha. Para investor diajak untuk memanfaatkan momentum first mover advantage di Tidore, sebuah wilayah dengan tingkat kompetisi yang masih rendah namun memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter