Tandaseru — Sejumlah warga Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara berunjuk rasa dan memblokade jalan utama, Senin (1/6).
Aksi ini dipicu adanya penolakan warga desa lain atas langkah Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Haltim mengkarantina lima anggota tim Gugus Tugas Desa Sondo-Sondo yang reaktif rapid test di Puskesmas Subaim, Wasile Selatan, Minggu (31/5).
Aksi pemboikotan jalan ini dilakukan pemuda Desa Ekorino, Ekor dan Nusa Jaya. Sedangkan penolakan pasien dilakukan pemuda Desa Batu Raja dan Cemara Jaya. Warga dua desa ini mengaku menolak karantina petugas reaktif lantaran tak ada sosialisasi terlebih dulu dari Gugus Tugas Covid-19 Haltim.
“Alasan tolak karena tidak ada sosialisasi sampai kemarin baru tahu ada pasien yang dikarantina di sini. Ini akan menimbulkan tekanan psikologi masyarakat di sini memang ada rapat kesepakatan tempat karantina dari pemerintah daerah, cuma kelemahannya jauh-jauh hari tidak ada sosialisasi makanya torang tolak,” ungkap Ketua Pemuda Batu Raja, Ilham Fabanyo kepada tandaseru.com.
Sementara dalam aksi blokade, warga menilai Gugus Tugas Haltim tidak serius melakukan pencegahan dan penanganan Covid-19. Salah satu indikatornya adalah tak adanya lokasi khusus karantina warga reaktif maupun yang punya indikasi Covid-19 hingga kini.

“Sampai saat ini kejelasan isolasi dan tempat karantina bagi pasien tidak jelas. Sehingga ketika tim medis membawa lima pasien untuk karantina di Subaim, terjadi penolakan,” tutur Koordinator Lapangan Aksi, Wilham Ambeua.
Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi mendesak Pemerintah Kabupaten Haltim melalui Gugus Tugas segera menyiapkan lokasi karantina terpusat yang memadai fasilitasnya.
Selain itu, memperhatikan kesejahteraan dan kebutuhan tim medis dan TNI/Polri yang bertugas di pintu masuk Sondo-Sondo, baik dari sisi alat pelindung diri (APD) maupun logistik lainnya.
“Kami juga minta agar transparansi pengelolaan anggaran Covid-19, serta mengedukasi lagi secara masif kepada masyarakat tentang penanganan dan pencegahan Covid-19,” tegas Wilham.

Ketua Gugus Tugas Posko Subaim, Zhulkarnain yang dikonfirmasi tandaseru.com menjelaskan, penanganan di Puskesmas Subaim hanya bersifat darurat. Dimana jika ada pasien yang belum sempat dirujuk ke ibukota kabupaten maupun ke Ternate maka hanya dititipkan sementara di Puskesmas Subaim.
“Bukan dilakukan karantina di Puskesmas Subaim. Kebetulan kemarin di Ternate itu full, sehingga yang (dirujuk) ke Ternate hanya dua orang, sementara lima orang dititip sementara di Puskesmas Subaim, dan siang tadi sudah dibawa ke Ternate,” tandasnya.
Sebelumnya, tujuh orang yang menjalani rapid test di Haltim dinyatakan reaktif. Mereka terdiri atas dua pelaku perjalanan, satu petugas pemantau pelaku perjalanan, dan empat petugas di pintu masuk Posko Sondo-Sondo.
Dua orang dirujuk lebih dulu ke Ternate sedangkan sisanya sempat dititipkan di Puskesmas Subaim.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.