Oleh: Laily Ramadhany Can
Ketua Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP UMMU
_______
SEJARAH panjang perdagangan global, rempah-rempah dari Kepulauan Maluku Utara telah memainkan peran penting dalam membentuk jalur ekonomi dunia. Namun, dalam narasi besar rempah itu, perempuan jarang sekali mendapat tempat dalam catatan sejarah formal.
Padahal, dari pasar-pasar lokal hingga rumah tangga pengolah hasil bumi, perempuan memegang peran strategis dalam menjaga keberlangsungan rantai ekonomi rempah di daerah ini.
Peran perempuan dalam ekonomi rempah lokal di Maluku Utara dengan menyusuri kontribusi mereka dari masa lalu hingga kini, serta dinamika gender yang membentuk pengalaman mereka, patut untuk diperhitungkan.
Sejarah Perempuan dan Rempah di Nusantara
Sejak masa kerajaan-kerajaan (Ternate dan Tidore), perdagangan rempah telah menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Dalam struktur sosial masyarakat Maluku Utara, perempuan memainkan peran dalam pengumpulan, pengolahan, dan distribusi hasil rempah seperti cengkih dan pala. Antropolog Ann Stoler (1995) mencatat bahwa dalam ekonomi kolonial, perempuan sering menjadi jembatan antara ekonomi rumah tangga dan pasar kolonial, terlibat sebagai pekerja kebun dan pelaku distribusi informal.
Meskipun peran ini tak selalu terlihat dalam dokumen resmi kolonial, keberadaan mereka telah menentukan arus barang dan nilai.
Rantai ekonomi rempah tidak hanya melibatkan petani, tengkulak, dan eksportir, tetapi juga pelaku lokal yang bekerja dalam ruang-ruang informal. Sebuah penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan di pasar-pasar lokal Maluku Utara terlibat dalam aktivitas perdagangan rempah dengan strategi yang adaptif, yakni mereka menjadi penghubung antara petani laki-laki dan pasar konsumen, mengatur harga, dan bahkan menavigasi kebijakan lokal yang sering tidak berpihak pada pelaku usaha kecil.
Di beberapa desa, seperti di Pulau Halmahera, perempuan dikenal sebagai “penjaga rempah,” karena keterlibatan mereka dalam menyimpan, mengeringkan, dan memilih kualitas rempah terbaik sebelum dijual.
Meski kontribusinya besar, perempuan seringkali tidak diakui secara formal dalam rantai nilai rempah. Mereka jarang tercatat sebagai pemilik usaha, tidak memiliki akses yang memadai terhadap modal, dan minim keterlibatan dalam pengambilan keputusan ekonomi desa. Ekonomi lokal kerap memarjinalkan kerja-kerja perempuan sebagai “kerja tambahan,” bukan kerja utama yang bernilai ekonomi (Chant, 2003). Hal ini menciptakan lapisan ketidaksetaraan gender yang melekat dalam sistem ekonomi lokal.
Menguatkan posisi perempuan dalam ekonomi rempah lokal, berarti membangun sistem yang mengakui kerja mereka secara penuh. Pendekatan gender dalam pengembangan ekonomi lokal harus dimulai dari pendataan partisipatif, pengakuan formal atas kerja perempuan, dan akses terhadap pelatihan serta modal usaha. Studi yang dilakukan Oxfam (2020) menunjukkan bahwa intervensi berbasis gender dalam komunitas penghasil rempah di beberapa wilayah di Indonesia berhasil meningkatkan pendapatan perempuan hingga 30% serta memperkuat posisi tawar mereka dalam kelompok tani.
Perempuan adalah simpul penting dalam rantai ekonomi lokal rempah di Maluku Utara yang harus diperhatikan, baik sebagai pengolah, pedagang, maupun pengelola modal sosial komunitas. Memahami peran ini berarti merevisi cara kita memandang ekonomi lokal, tidak lagi sebagai ruang netral, tetapi sebagai medan sosial yang penuh negosiasi gender. Dalam lintasan panjang rempah di Nusantara, jejak perempuan bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi fondasi dari keberlanjutan ekonomi lokal itu sendiri. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.