Oleh: Mansyur Armain
Jurnalis
______
RUMAH itu terlihat klasik. Dindingnya mulai retak, atap rumah dan beberapa tiangnya tampak tua. Meski begitu, ia terawat hingga sekarang.
Rumah di Kelurahan Tomalou, Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, itu terletak di pesisir pantai. Tidak ada penghuninya. Sebagian dindingnya diberi alas seng dari belakang.
Saya bertemu Fahrudin Hasan atau karib disapa Dino bersama dua temannya di rumah itu. Dino bilang, rumah tersebut punya kakaknya yang sudah tak ditinggali lagi.
Kami duduk di teras belakang rumah, tempat Dino bercerita tentang terbentuknya komunitas “Yanger Seho”. Cuaca sore itu sangat cerah. Saya bersama tiga orang anggota komunitas Yanger Seho duduk sambil menikmati teh instan dan rokok.
Dino mengungkapkan, terbentuknya Komunitas Yanger Seho, ia sempat melihat seorang lelaki memainkan musik tersebut lapangan Salero.
“Ketika melihat lelaki itu bermain musik Yanger Seho, di setiap hari Minggu saat lagi heboh senam zumba. Setelah itu, saya bersama-sama teman mendekati lelaki itu lalu berkata ‘Om, bolehkah kami belajar musik itu?’ Lelaki itu mengiyakan. Dari perkenalan itu, ternyata Om yang kami tanya tadi namanya Om Udin,”cerita Dino, Minggu (30/5).
Om Udin saat ini tinggal bersama istri dan anaknya di Lingkungan Koloncucu, Ternate Utara.
Beberapa hari kemudian, Dino dan lima kawannya mulai berlatih memainkan musik Yanger Seho. Om Udin mencoba memberi mereka kebebasan untuk bermain sendiri, maupun mengembangkannya, tanpa menghilangkan jejak lokalitas musik Yanger Seho sendiri.
“Waktu terus berganti. Kami tetap belajar dan bersama-sama mengembangkan lagi musik Yanger Seho dari berbagai genre. Biasanya musik Yanger Seho kami belajar dengan empat senar. Dan ketekunan itu terus dilatih, digali. Dino, Bang Fais, Puji, Ramdani, dan Ale pelan-pelan mulai mengembangkan Yanger Seho dari berbagai kreativitas serta inovasi,” tuturnya.
Mereka pun memberanikan diri tampil di Festival Kampung Nelayan di Tomalou. Komunitas Yanger Seho pun makin mantap melestarikan musik tradisional itu.
“Dari Komunitas tersebut, alhamudillah sudah beberapa kali tampil, baik di Ternate, di acara-acara akad nikah, dan di berbagai café,” terang Dino.
Selain di Ternate, Komunits Yanger Seho juga pernah tampil di event besar, seperti di acara Kampung Ramean di Pantai Tugulufa memperingati 500 tahun pelayaran kapal Juan Sebastian Elcano mengelilingi dunia.
Hari telah berganti, datanglah seorang anak muda dari Halmahera, namanya Takdir. Anak muda berperawakan gendut, berkacamata, dengan potongan rambut pendek, tipis, dan memiliki jiwa musik yang tinggi untuk mau belajar. Takdir pun bergabung dengan komunitas.
“Kalau kehadiran Ade Takdir di musik Yanger Seho saya rasa ia menambah beberapa inovasi gila dalam mengembangkan musik Yanger Seho. Saya tidak bisa berkata-kata, karena apa yang kami belajar dari Om Udin, mendapat pengetahuan tersendiri tentang musik tradisional yang perlu dilestarikan tanpa batas,” tutur Dino.
Dengan bergabungnya Takdir, musik yanger yang dimainkan komunitas ini makin kaya. Panggilan untuk tampil pun kian bertambah.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.