“Awalnya kami bertemu Takdir di salah satu café di Ternate. Saat itu, ia bilang perlu pendekatan dengan teman-teman pemusik Yanger Seho. Sebelumnya dia biasa tampil solo membawakan lagu pop religi,” kata Dino.
“Dari kedekatan itu, bung Dino memanggil saya untuk bergabung dengan musik Yanger Seho. Bagi saya, itu suatu kesyukuran besar yang saya diterima,” sambung Takdir.
Saat kami mengobrol, Magrib datang. Matahari mulai tenggelam. Warna langit berubah. Suara mengaji dari pengeras suara masjid terdengar.
Takdir bilang, awalnya ia berperan sebagai vokal. Sudah lama ia tertarik dengan musik yanger. Jenis musik itu familiar di telinganya yang tumbuh besar di Pulau Halmahera.
Ia ingin belajar dan melestarikan musik tersebut. Sebab saat ini kebanyakan anak muda mulai lupa seni budaya daerahnya masing-masing.
“Sebagai generasi anak muda, kita tetap melestarikan budaya, baik dari sisi tarian, musik, dan saya berharap teman-teman dari Yanger Seho harus kompak dan menjaga tim ini agar bisa dilihat oleh banyak kalangan. Kami memang belum pernah rekaman secara profesional, juga tidak berharap diundang kesana kemari. Yang terpenting adalah musik ini bisa dilihat khalayak umum dan menginspirasi anak-anak muda Maluku Utara lainnya,” harapnya.(*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.