Tandaseru – Di sebuah ruangan bernomor 117 di Institut Studi Asia dan Afrika (IAAW), Universitas Humboldt Berlin, aroma sejarah dan benang-benang tradisi menyatu. Sore itu, 6 Mei 2026, jejak budaya dari sebuah pulau kecil di Maluku Utara resmi “mendarat” di jantung ibu kota Jerman.

Adalah Anita Gathmir, sosok di balik kebangkitan kain tenun Puta Dino Kayangan, yang hadir membawa misi besar: memperkenalkan kembali identitas Tidore yang sempat meredup selama satu abad kepada khalayak internasional.

Menenun Harapan di Atas Jejak Sejarah

Kisah ini bermula pada tahun 2017. Berbekal dokumen lama dan foto-foto kusam dari arsip sejarah, Anita menemukan fakta memilukan bahwa tradisi menenun di Tidore telah hampir punah.

Ia tidak tinggal diam. Melalui inisiatifnya, Anita mendirikan “Puta Dino Kayangan”—sebuah nama filosofis yang berarti “kain yang disusun dengan nilai mulia.”

“Kegiatan ini bukan sekadar pameran, tapi pernyataan bahwa Tidore masih ada dan budayanya tetap hidup,” ungkap narasi semangat yang dibawa rombongan ini ke Berlin.

Diplomasi Budaya di Ruang Kuliah

Acara bertajuk “Die Weberinnen von Tidore” (Para Penenun dari Tidore) ini terselenggara atas inisiasi Esie Hanstein, Lektor Bahasa Indonesia di IAAW Universitas Humboldt. Esie, yang dikenal peduli pada pemberdayaan perempuan dan pelestarian lingkungan, melihat kekuatan luar biasa dalam sosok Anita Gathmir.

Suasana semakin hidup ketika dua orang penenun binaan Anita memperagakan kemahiran mereka menggunakan alat tenun portabel secara live. Jemari mereka lincah menyusun benang, menciptakan motif-motif bersejarah seperti “Motif Tuan Guru” di hadapan para akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum di Jerman.

Hadir pula dalam acara ini Ronius Marjunus, Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Berlin, yang mewakili Kedutaan Besar Republik Indonesia. Dukungan penuh juga mengalir dari KJRI Hamburg dan KBRI Berlin, menandakan betapa pentingnya langkah diplomasi budaya melalui wastra nusantara ini.

Dari Maluku Utara untuk Dunia

Anita Gathmir bukan sekadar desainer. Ia adalah motor penggerak ekonomi bagi perempuan di Maluku Utara. Melalui UMKM-nya, ia membina para wanita lokal untuk berdaya secara ekonomi tanpa meninggalkan akar budaya mereka. Dedikasi ini pula yang mengantarkannya meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk “Puspa Pesona”.

Setelah sebelumnya sukses melantai di catwalk New York hingga Cape Town, kehadiran Puta Dino di Universitas Humboldt menjadi tonggak baru: “Goes to Campus”. Ini adalah upaya edukatif untuk memperjelas kembali posisi Tidore di peta dunia. Jika dulu Tidore dikenal sebagai pulau rempah yang memicu penjelajahan dunia, kini Tidore dikenal melalui kelembutan dan kekuatan filosofis kain tenunnya.

Di bawah langit Berlin, kain-kain dari Tidore itu bercerita—bahwa tradisi yang sempat terlupakan 100 tahun silam, kini telah bangun dan siap menaklukkan dunia sekali lagi.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter