Tandaseru – Di sebuah sudut distrik St. Georg yang biasanya riuh dengan nuansa modernitas Eropa, aroma benang dan derit kayu sederhana membawa suasana kerajaan di Timur Indonesia ke jantung Kota Hamburg, Jerman.

Di dalam gedung Matahari Hairstyling, Anita Gathmir Kaicil, pimpinan Puta Dino Kayangan, tampak telaten membimbing jemari para diaspora dan warga lokal Jerman. Ia tidak sekadar mengajar teknik menenun; ia sedang memulihkan ingatan sejarah yang sempat redup melalui Tenun Sumpit Tidore.

Acara bertajuk Bulan Indonesia 2026 ini menjadi panggung bagi warisan Kesultanan Tidore untuk unjuk gigi. Diselenggarakan oleh IKAT Agentur dan Deutsch Indonesische Gesellschaft (DIG) Hamburg, festival budaya yang berlangsung dari 8 Mei hingga 8 Juni ini mengubah suasana St. Georg menjadi etalase mini Nusantara.

Diplomasi Sehelai Kain

Bagi Anita, membawa alat tenun sederhana ke Hamburg bukan sekadar soal pameran. Ini adalah misi pelestarian. Tenun Tidore, yang dikenal dengan sebutan Puta Dino, adalah warisan tua yang sempat hampir punah sebelum akhirnya dihidupkan kembali oleh tangan-tangan kreatif dari Maluku Utara.

“Kami senang sekali dapat berbagi kehangatan dan keindahan Tenun Tidore,” ujar Anita dengan binar mata penuh antusiasme.

Dalam mini workshop tersebut, para pengunjung diajak merasakan langsung filosofi di balik sehelai kain. Menenun Sumpit bukanlah pekerjaan instan; ia menuntut kesabaran ekstra dan ketenangan jiwa.

“Pengunjung sangat antusias belajar sabar dan merasakan proses kreatif di balik setiap helai kain,” tambahnya.

Kehadiran sosok-sosok penting seperti Dyah Narang-Huth (CEO IKAT Agentur) dan Renata Siagian (Konsul Jenderal RI di Hamburg) pada hari pembukaan menegaskan betapa pentingnya diplomasi budaya ini dalam mempererat hubungan emosional antara Jerman dan Indonesia.

Harmoni Tradisi di Usia Dua Dekade

Kemeriahan tak berhenti di jalinan benang. Memasuki hari kedua, fokus beralih pada mahkota perempuan: rias wajah dan sanggul. Tiga perias handal—Tika Theimert, Sekar Palupi Benhardt, dan Inchie Kühl—bergantian mempresentasikan evolusi kecantikan perempuan Indonesia, mulai dari tema “Harmoni Alami” hingga “Jejak Tradisi Sanggul”.

Bagi Ernina Schahinger, pemilik Matahari Hairstyling, momen ini terasa sangat personal. Tahun ini, salon miliknya genap berusia 20 tahun. Menjadikan tempat usahanya sebagai pusat kegiatan Bulan Indonesia adalah cara terbaik merayakan dua dekade eksistensinya sebagai diaspora di Jerman.

Magnet Budaya di Tengah Perayaan Kota

Penyelenggaraan Bulan Indonesia 2026 ini bertepatan dengan momentum besar di Hamburg. Di saat yang sama, Pelabuhan Hamburg—pelabuhan tersibuk di Jerman—sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-837.

Di tengah hiruk-pikuk kota terbesar kedua di Jerman yang sedang berpesta, kehadiran workshop Tenun Tidore dan rias tradisional Indonesia menjadi warna berbeda. Ribuan kilometer dari Maluku Utara, Puta Dino Kayangan membuktikan jarak bukan penghalang untuk merawat identitas. Di Hamburg, benang-benang itu tidak hanya menjadi kain, tapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu Nusantara dengan masa depan global.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter