Oleh: Suko Wahyudi
Pegiat Literasi, tinggal di Yogyakarta
_______
RUPIAH jatuh lagi. Angkanya Rp17.430 per dolar AS. Sebuah angka yang kalau ditulis di papan pengumuman terasa seperti bunyi kentongan kematian bagi isi dompet rakyat kecil. Dolar naik bukan lagi berita ekonomi, melainkan berita duka. Sebab di negeri ini, dolar itu makhluk aneh: badannya tidak kelihatan, tetapi bayangannya bisa masuk ke dapur, ke pasar, bahkan ke warung kopi yang kopinya sudah lebih banyak air daripada bijinya.
Konon penyebabnya ketegangan global. Dunia sedang uring-uringan. Amerika Serikat dan Iran saling pasang urat seperti dua jago kampung berebut mikrofon dangdut. Selat Hormuz mendadak lebih terkenal daripada jalan desa sendiri. Semua orang bicara minyak dunia, perang, kapal induk, dan ancaman rudal. Dunia internasional seperti pasar malam yang lampunya korslet: gaduh, panas, dan bikin orang takut dompetnya hilang.
Lalu investor berlarian menuju dolar AS. Mereka memeluk dolar seperti emak-emak memeluk anak semata wayang saat rumah mulai kebanjiran. Mata uang negara berkembang ditinggalkan. Rupiah dicampakkan seperti sandal jepit putus di pinggir got. Beginilah nasib negeri berkembang: kalau dunia batuk sedikit saja, kita sudah masuk angin berjamaah.
Tetapi menyalahkan dunia luar terus-menerus juga seperti suami malas yang tiap hari menyalahkan hujan karena atap rumah bocor. Padahal sengnya memang sudah karatan sejak zaman kakeknya kawin. Ekonomi Indonesia memang tampak gagah dari jauh, tetapi kalau didekati bunyinya agak kopong. Utang negara hampir Rp10 ribu triliun. Angka yang kalau ditulis nolnya bisa membuat kalkulator megap-megap.
Pemerintah bilang tenang saja, utang kita masih aman. Tentu saja aman. Orang yang tenggelam pun kadang masih sempat melambaikan tangan. Tetapi pasar tidak gampang diyakinkan dengan pidato. Pasar itu seperti mertua galak: lebih percaya isi dompet daripada janji menantu.
Masalahnya utang di negeri ini kadang diperlakukan seperti bedak pemutih: dipakai terus agar wajah pembangunan tampak kinclong. Jalan dibangun dengan utang. Proyek dibangun dengan utang. Defisit ditutup dengan utang. Bahkan kadang rasanya rakyat bernapas pun seperti dijamin oleh utang. APBN kita mirip orang gali sumur sambil berdiri di dalam sumur itu sendiri. Makin semangat menggali, makin dalam tenggelamnya.
Sementara itu rupiah makin kurus. Nilainya merosot seperti harga diri politisi setelah pemilu selesai. Harga barang mulai merangkak naik pelan-pelan, seperti pencopet profesional yang tangannya halus tetapi isi kantong kita tahu-tahu habis. Beras naik sedikit. Minyak goreng naik sedikit. Ongkos hidup naik sedikit. Tetapi “sedikit-sedikit” itulah yang akhirnya membuat rakyat kecil merasa hidup di negeri yang dompetnya selalu dikerjai keadaan.
Lucunya para elite ekonomi tetap bicara dengan istilah yang membuat rakyat perlu membuka kamus. Mereka menyebut “resiliensi fiskal”, “stabilitas makro”, dan “penguatan fundamental”. Kalimat-kalimat itu melayang tinggi seperti balon gas di pesta ulang tahun, sementara rakyat kecil tetap sibuk menghitung recehan di warung. Ekonomi akhirnya terasa seperti seminar mahal di hotel berbintang: banyak tepuk tangan, sedikit kenyang.
Rakyat kecil sebenarnya tidak butuh teori rumit. Mereka tidak peduli The Fed menaikkan suku bunga atau kapal perang siapa yang parkir di Timur Tengah. Mereka hanya ingin harga cabai tidak lebih galak daripada mertua. Mereka hanya ingin isi dompet tidak sekarat sebelum akhir bulan. Tetapi di negeri ini, hidup sederhana saja kadang perlu strategi tingkat dewa.
Bank Indonesia lalu turun tangan. Intervensi dilakukan. Cadangan devisa dikeluarkan. Rupiah dijaga seperti satpam menjaga pintu mal saat diskon besar-besaran. Tetapi kekuatan bank sentral pun ada batasnya. Menahan rupiah di tengah badai global itu seperti menahan layangan putus dengan benang jahit. Bisa sebentar, tetapi tangan tetap gemetar.
Masalah terbesar negeri ini sesungguhnya bukan hanya dolar yang perkasa, melainkan ekonomi kita yang terlalu mudah silau. Kita gemar impor, doyan konsumsi, dan sering lupa memproduksi. Akibatnya setiap dolar naik, kita panik seperti ayam kehilangan induk. Negeri yang tanahnya subur ini malah sering bergantung pada barang luar. Sawah luas, tetapi kedelai impor. Laut luas, tetapi garam impor. Kadang yang benar-benar mandiri di negeri ini mungkin cuma tukang tambal ban.
Dan akhirnya rakyat kecil lagi-lagi menjadi penonton paling setia dari drama ekonomi yang tak pernah tamat. Mereka menonton rupiah jatuh sambil menyeruput kopi saset yang gulanya makin tipis. Mereka mendengar pidato optimisme sambil menghitung utang warung. Mereka hidup di negeri kaya raya, tetapi tetap harus bertarung dengan harga kebutuhan sehari-hari yang naik seperti balon kena pompa.
Rupiah yang melemah ini akhirnya bukan cuma soal kurs mata uang. Ia adalah cermin sebuah negeri yang terlalu sering gagah di podium tetapi megap-megap di dapur. Negeri yang pidatonya bisa setinggi Monas, tetapi isi kantong rakyatnya kadang setipis kuitansi parkir. (*)


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.