Tandaseru – Forum Mahasiswa Pascasarjana Maluku Utara (Formapas Malut) mengecam keras rentetan aksi pembunuhan oleh Orang Tak Dikenal (OTK) yang terus berulang di wilayah hutan Halmahera Tengah (Halteng) dan Halmahera Timur (Haltim). Tragedi terbaru dilaporkan kembali menelan korban jiwa di wilayah Patani Barat pada 2 April 2026.

Ketua Umum PP Formapas Malut, Riswan Sanun, menilai kekerasan yang terjadi sejak tahun 1985 hingga 2026 ini menunjukkan lemahnya kehadiran negara dalam menjamin keamanan warga di wilayah pedalaman.

“Ini bukan lagi kasus kriminal biasa, melainkan tragedi kemanusiaan yang berulang selama puluhan tahun. Aparat penegak hukum terlihat tidak berdaya menghadapi teror yang menghantui masyarakat,” tegas Riswan dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Desak Pembentukan Tim Khusus

Riswan menambahkan, kegagalan mengungkap pelaku secara tuntas telah menciptakan rasa takut berkepanjangan bagi warga. Formapas Malut secara resmi mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk segera mengambil langkah konkret guna memutus rantai kekerasan tersebut.

Ada tiga poin utama yang didesak oleh Formapas Malut, yakni:

  1. Pembentukan tim khusus untuk mengusut tuntas seluruh rangkaian kasus pembunuhan.
  2. Penempatan personel keamanan secara permanen di titik-titik rawan konflik dan jalur hutan.
  3. Pengungkapan identitas serta jaringan pelaku OTK yang selama ini beroperasi di hutan Halteng dan Haltim.

Minta Perhatian Pemerintah Pusat

Lebih lanjut, Riswan meminta pemerintah pusat tidak melihat persoalan ini sebagai isu lokal semata. Menurutnya, pola kejadian yang terorganisir mengindikasikan adanya masalah besar yang harus segera diungkap demi menyelamatkan nyawa manusia.

“Kalau ini terus dibiarkan, kepercayaan publik terhadap aparat akan runtuh. Negara tidak boleh kalah oleh teror. Masyarakat butuh keamanan nyata, bukan sekadar janji,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, rentetan teror OTK di wilayah perbatasan Halteng-Haltim masih menjadi ancaman serius bagi warga yang beraktivitas di dalam hutan untuk berkebun.

Sahril Abdullah
Editor
Sahril Abdullah
Reporter