Tandaseru – Puluhan nelayan di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, mendatangi Mapolres Sula mempertanyakan kejelasan penahanan kapal oleh Satuan Polisi Air (Satpolair). Penahanan armada yang menjadi jalur distribusi utama hasil tangkapan tersebut dinilai memperburuk akses pasar bagi nelayan lokal.

Selama ini, nelayan di Kepulauan Sula sangat bergantung pada kapal dari luar daerah, termasuk armada asal Bitung, Sulawesi Utara, untuk menyerap hasil tangkapan mereka. Terhentinya operasional kapal tersebut membuat distribusi ikan mandek dan mengancam ekonomi rumah tangga nelayan.

Kapolres Kepulauan Sula, AKBP Kodrat Muh Hartanto, mengonfirmasi saat ini pihaknya tengah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen dan administrasi kapal tersebut guna memastikan kepatuhan terhadap regulasi perikanan yang berlaku.

“Proses pemeriksaan sedang berjalan dan kami upayakan agar bisa lebih cepat selesai. Langkah ini adalah bagian dari penertiban agar aktivitas perikanan berjalan sesuai aturan,” ujar Kodrat, Sabtu (4/4/2026).

Ia juga mengimbau para nelayan untuk bersabar dan menegaskan tindakan kepolisian bertujuan memastikan praktik perikanan yang legal dan berkelanjutan demi kepentingan jangka panjang.

Namun, desakan agar proses tersebut segera tuntas disuarakan oleh para nelayan. Ruseng Mahaling, nelayan asal Desa Bajo, Kecamatan Sanana Utara, mengungkapkan kekhawatirannya karena sebagian ikan hasil tangkapannya masih tertahan di dalam kapal tersebut.

“Ada ikan saya di kapal itu. Kami hidup dari situ untuk kebutuhan harian dan sekolah anak. Kalau distribusi terlambat, kami mau dapat uang dari mana?” keluh Ruseng.

Kondisi ini memicu harapan besar agar Pemerintah Provinsi Maluku Utara turun tangan mengatasi masalah klasik yang dihadapi nelayan di wilayah tersebut. Ruseng berharap pemerintah daerah bisa memberikan solusi konkret terhadap keterbatasan akses pasar agar nelayan tidak terus-menerus terhimpit secara ekonomi.

“Mudah-mudahan pemeriksaan cepat selesai, dan kami mohon Pemerintah Provinsi bisa perhatikan nasib kami di Sula. Kami sulit kalau tidak ada yang beli hasil tangkapan kami,” pungkasnya.

Sahril Abdullah
Editor
Riski Sarmin
Reporter