Tandaseru – Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan ambisi pemerintah untuk menyulap Pulau Morotai, Maluku Utara, menjadi pusat latihan militer internasional (International Training Facilities). Rencana strategis ini turut dibahas dalam pertemuan bilateral dengan Wakil Perdana Menteri Australia, Richard Marles, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Sjafrie menjelaskan, pemilihan Morotai didasarkan pada nilai historis dan infrastruktur pertahanan yang sudah ada sejak era Perang Dunia Kedua. Pemerintah berencana melakukan revitalisasi besar-besaran terhadap infrastruktur peninggalan tersebut agar layak digunakan kembali.

“Kita berbicara mengenai kemungkinan training facility dikembangkan di Morotai. Tadi saya bicarakan gimana kita membuat international training facilities di sana,” ujar Sjafrie dikutip dari cnnindonesia.com.

Fasilitas Latihan Terpadu

Menurut Menhan, pusat latihan di Morotai nantinya akan dirancang secara komprehensif untuk mendukung berbagai matra militer. Lokasi tersebut dinilai sangat strategis untuk simulasi tempur skala besar yang melibatkan kekuatan lintas matra.

  • Latihan Udara: Pemanfaatan ruang udara yang luas.
  • Latihan Laut: Lokasi perairan yang terbuka dan strategis.
  • Latihan Darat: Pengembangan area latihan darat bagi pasukan infanteri maupun kavaleri.

Meski dibicarakan bersama Australia, Sjafrie menegaskan fasilitas ini tidak bersifat eksklusif bagi satu negara saja. Indonesia ingin menunjukkan sikap terbuka dan memperkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara di kawasan maupun global.

“Tidak harus hanya dari Australia. Bisa juga dari Filipina, bisa dari Jepang. Ya, saya kan bilang international training facilities,” tegasnya.

Pusat latihan ini diproyeksikan menjadi wadah bagi TNI untuk melakukan latihan bersama (Latma) dengan militer negara lain guna mempererat diplomasi pertahanan. Namun, Menhan belum merinci secara detail terkait jadwal pasti dimulainya proses pembangunan fisik area latihan tersebut.

Ika Fuji Rahayu
Editor
Ika Fuji Rahayu
Reporter