Tandaseru – Warga Desa Tolofuo, Kecamatan Loloda, Halmahera Barat, Maluku Utara, mulai mengeluhkan krisis air bersih yang berkepanjangan pascabanjir besar melanda wilayah tersebut. Kerusakan total pada infrastruktur air membuat warga terpaksa mengonsumsi air sungai yang rawan tercemar.
Hingga Selasa (13/1/2026), distribusi bantuan air bersih dari pemerintah kecamatan belum juga tiba di lokasi. Camat Loloda, Norlis Sow, mengakui adanya kendala teknis dan faktor cuaca yang menghambat proses penyaluran bantuan darurat.
Infrastruktur Rusak Total
Menurut keterangan Norlis, banjir telah menghancurkan fasilitas vital penyediaan air di desa tersebut.
“Pipa distribusi dan dua bak penampung di sumber mata air rusak total dan tidak bisa lagi digunakan,” tegas Norlis saat dikonfirmasi.
Pihak kecamatan mengklaim telah menyiapkan logistik berupa:
• 40 dus air kemasan.
• 50 galon air (Vpol).
• 10 jerigen air sebagai langkah darurat.
Namun, bantuan tersebut masih tertahan. “Kendala utama saat ini adalah cuaca hujan disertai angin kencang, sehingga mobilisasi logistik belum bisa dilakukan,” tambahnya.
Kekhawatiran Warga Jelang Ramadan
Di sisi lain, masyarakat mulai merasa terdesak karena kebutuhan air bersih sangat krusial, terutama menjelang bulan suci Ramadan. Harmin, salah satu warga Desa Tolofuo, mengungkapkan bahwa warga saat ini hanya mengandalkan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kalau hujan deras, air kali pasti kotor karena tercampur lumpur banjir. Sampai sekarang kami masih kesulitan air bersih, baik untuk minum maupun kebutuhan lainnya,” ujar Harmin.
Warga berharap Pemerintah Daerah tidak hanya memberikan bantuan darurat berupa air kemasan, tetapi segera melakukan langkah nyata untuk memperbaiki pipa dan bak penampung agar akses air bersih kembali normal secara berkelanjutan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.