Tandaseru — Secangkir kopi bisa menjadi lebih dari sekadar teman melepas penat. Di balik meja dan racikannya, ada ruang perjumpaan, tempat berbagai latar belakang sosial bertemu tanpa harus membawa sekat status maupun perbedaan kelas.
Filosofi inilah yang diusung Kopitiam TN Sumber Rezeki, kedai kopi yang hadir sejak 2026 di Halmahera Barat, Maluku Utara. Mengangkat slogan “Beda Kelas, Satu Gelas. Datang, Ngopi, Pulang”, kedai ini menawarkan konsep yang tidak sekadar berorientasi pada cita rasa, tetapi juga membawa pesan tentang kesetaraan dan kebersamaan.
Melalui konsep yang terbilang unik, TN Sumber Rezeki mencoba mempertemukan dua istilah yang selama ini kerap dipertentangkan dalam teori sosial dan ekonomi, yakni Proletariat dan Borjuis, dalam satu ruang yang sama.
Bagi manajemen kedai Chairil Saputra Tukuboya, perbedaan kelas bukan alasan untuk membangun jarak. Sebaliknya, setiap orang memiliki peran dan saling membutuhkan dalam kehidupan sosial maupun ekonomi.
Kaum pemilik modal membutuhkan tenaga dan produktivitas pekerja. Sebaliknya, pekerja membutuhkan kesempatan, modal, dan ruang pertumbuhan ekonomi. Hubungan saling membutuhkan inilah yang diterjemahkan TN Sumber Rezeki melalui sebuah meja kopi.
Dua Kelas, Satu Standar Pelayanan
Keunikan konsep tersebut juga diterapkan melalui pembagian menu menjadi dua klaster, yakni Kopi Borjuis dan Kopi Proletariat.
Kopi Borjuis ditawarkan dengan harga Rp25 ribu, menghadirkan pilihan racikan modern seperti Kopi Pandan dan Kopi Gula Aren. Klaster ini mengusung filosofi, “Gaya boleh mahal, rasa harus total.”
Sementara Kopi Proletariat dibanderol mulai Rp22 ribu hingga Rp25 ribu. Pilihannya meliputi Kopi O (kopi hitam) dan Kopi C (kopi susu), tersedia dalam sajian panas maupun dingin atau Peng, lengkap dengan paket Roti Bakar. Klaster ini membawa pesan, “Modal sederhana, semangat luar biasa.”
Meski dibedakan berdasarkan konsep dan pilihan menu, Chairil Saputra Tukuboya atau biasa di sapa Putra ini menegaskan, tidak ada perbedaan kualitas maupun kecepatan pelayanan bagi setiap pelanggan.
Pelanggan yang memesan kopi seharga Rp22 ribu mendapatkan standar pelayanan yang sama dengan mereka yang memilih menu Rp25 ribu.
Tidak ada karpet merah bagi pelanggan berdasi, begitu pula tidak ada pengabaian terhadap mereka yang datang dengan sandal jepit.
Aturan Kedai: Kritik Diterima, Diskriminasi Ditolak
Untuk menjaga identitas dan konsistensi konsep, TN Sumber Rezeki menerapkan sejumlah aturan operasional yang menjadi bagian dari manifesto kedai.
Pertama, tidak boleh ada diskriminasi pelanggan berdasarkan penampilan, status ekonomi, maupun pilihan menu.
Kedua, pelanggan tidak perlu mempermasalahkan suasana ramai. Sebab, kedai ini memang dirancang sebagai ruang interaksi dan percakapan, bukan perpustakaan yang menuntut keheningan.
Ketiga, transaksi dilakukan secara tunai maupun melalui QRIS. Tidak ada sistem utang atau perlakuan khusus berdasarkan status sosial pelanggan.
Keempat, manajemen terbuka terhadap kritik dan masukan, tetapi tetap memiliki kewenangan dalam menentukan racikan, konsep, serta sistem pengelolaan kedai.
Poin paling menarik terdapat pada aturan berbagi meja atau mandatory table sharing. Ketika kedai dalam kondisi penuh, pelanggan diharapkan bersedia duduk bersama pelanggan lainnya tanpa memandang latar belakang sosial.
Prinsipnya sederhana: jika secangkir kopi bisa dinikmati siapa saja, mengapa meja harus menjadi tempat untuk mempertahankan gengsi?
Putra bahkan menegaskan filosofi tersebut melalui semboyan, “Duduk Sama Rata, Berdiri Tanpa Raja.” Lebih dari Sekadar Tempat Ngopi melalui konsep tersebut, TN Sumber Rezeki ingin menghadirkan pengalaman berbeda dalam budaya nongkrong.
Kedai bukan hanya tempat membeli minuman, melainkan ruang pertemuan, pertukaran gagasan, dan membangun koneksi lintas latar belakang. Tahapannya dimulai dari pemusnahan gengsi, membuka koneksi lintas kelas, hingga membangun hubungan sosial yang saling membutuhkan.
Pada akhirnya, filosofi yang ingin disampaikan kedai ini adalah bahwa harga secangkir kopi boleh berbeda, tetapi martabat setiap orang tetap sama.
TN Sumber Rezeki (Since 2026). Beda Kelas, Satu Gelas. Datang, Ngopi, Pulang.





Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.