Tandaseru — Angin pesisir berembus lembut di Desa Sopi dan Sopi Majiko, Kecamatan Morotai Jaya, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Di bibir pantai yang menghadap langsung ke luasnya Samudra Pasifik itu, gelak tawa dan teriakan antusias bersahut-sahutan.

50 anak dan remaja berusia 9 hingga 19 tahun berkumpul bersama, bersiap menerjang gulungan ombak. Namun, mereka tidak sedang sekadar bermain air.

Selama empat hari, tepatnya pada 4–7 November 2026, para generasi muda ini berkumpul dalam ajang Kemah Konservasi Selancar Morotai ke-3 (Morotai Surf Conservation Camp).

Momen ini menjadi istimewa karena peserta yang hadir tak hanya anak-anak lokal Morotai, tetapi juga datang jauh-jauh dari pulau lain: Sumba, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Supiori di tanah Papua.

Kegiatan seru ini lahir dari kolaborasi antara Indonesia Locally Managed Marine Area (ILMMA) dan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai. Berada dalam kemeriahan rangkaian Festival Morotai 2026, kemah ini menjadi bagian penting dari program Surf Ecosystem Conservation (Konservasi Ekosistem Selancar).

Bagi Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial biasa. Sekretaris Daerah Muhammad Umar Ali menegaskan, kemah konservasi selancar ini sudah diproyeksikan sebagai agenda tahunan bersama ILMMA.

“Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai sangat mendukung kerja ILMMA bersama masyarakat dalam konservasi sepanjang tahun. Kemah konservasi selancar ini menandai langkah berikutnya: menyiapkan generasi muda dan masyarakat untuk menjaga ombak mereka. Kami ingin kemah ini menjadi agenda tahunan yang mendukung program pemerintah daerah,” ujar Umar.

Di mata dunia, ombak Morotai memang punya daya pikat luar biasa. Berhadapan langsung dengan Samudra Pasifik, kualitas ombaknya tak kalah bersaing dengan destinasi kelas dunia lainnya, menawarkan tantangan memikat bagi peselancar lokal maupun mancanegara.

Namun, Umar mengingatkan satu hal penting: ombak yang hebat tidak datang dari laut yang rusak. Kualitas ombak hanya akan terjaga jika rumahnya—yaitu terumbu karang, hutan mangrove, padang lamun, dan kawasan pantai—tetap sehat, terawat, serta bebas dari perusakan.

Berangkat dari kesadaran itulah, metode pelatihan dikemas secara interaktif. Para peserta diajak belajar lewat bermain, mengamati, dan berpraktik langsung di atas pasir maupun di dalam air.

Mereka dibekali pengetahuan vital: mulai dari isyarat keselamatan, sistem buddy (pasangan), cara membaca pergerakan ombak, angin, dan arus, hingga memetakan ekosistem selancar dan etika berselancar.

Tak berhenti di situ, kemah ini juga melatih para asisten selancar lokal agar api semangat konservasi ini tetap menyala di desa walau acara telah usai.

Sebagai penutup petualangan, rangkaian acara dipungkasi pada Sabtu, 7 November 2026, lewat eksibisi selancar yang memukau dari para peserta serta penyerahan sertifikat.

Direktur ILMMA, Cliff Marlessy, mengungkapkan edisi ketiga ini terasa sangat hangat karena menjadi ajang saling berguru antardaerah. Kehadiran peserta dan champion dari Sumba, Nias, dan Supiori memberi warna baru untuk saling bertukar pengalaman tentang cara menjaga laut di kampung halaman masing-masing, didampingi langsung oleh pelatih selancar berpengalaman tingkat nasional dan internasional.

“Morotai itu istimewa, tetapi perlu dijaga dengan baik. Kemah ini yang pertama di Indonesia Timur yang melibatkan masyarakat dan anak-anak, di Morotai yang termasuk daerah 3T. Dari kemah pertama hingga ketiga, animo masyarakat dan dukungan organisasi semakin besar. Kini, ILMMA bekerja bersama organisasi lokal dan internasional di Morotai melalui konsorsium Surf Ecosystem Conservation,” terangnya.

“Kami berharap anak-anak yang dilatih tidak hanya andal berselancar, tetapi juga menjaga lingkungan agar ombak ini selalu ada dan menjadi penjaga ombak di bibir Pasifik,” tandas Cliff penuh harap.

Sahril Abdullah
Editor
Irjan Rahaguna
Reporter