Oleh: Murid Tonirio

Dosen FUAD IAIN Ternate

 ________

SORE itu, kalau tidak salah ingat, Mely Amal datang ke rumah di kampung Makassar. “Ka Acep bilang ke rumah setelah isa”. Saat tiba di rumah, Taufik Adnan Amal duduk di teras sambil merokok bersama temannya. Ini pertemuan kedua saya dengan Taufik. Taufik memperkenalkan saya pada temannya. “Ini Murid”. Kami berjabatan tangan. Meski agak kikuk, saya berusaha bersikap santai. “Samsu Rizal Panggabean!” kata saya. “Kok tahu?”Samsu Rizal merespon gaya sok akrab saya. “Tahulah. Pernah lihat foto profil di buku yang ditulis bareng Taufik,” jawab saya.

Taufik menawari saya “minum teh atau kopi?”Ada beberapa botol air mineral di atas meja. “Air saja,” kata saya. Saya mengeluarkan rokok. Kami merokok tiga merek rokok berbeda. Samsu Rizal berusaha meluruhkan kekakuan saya. “Kalau ke Ternate, saya selalu turun di sini. Mama (ibunya Taufik) bisanya menyiapkan sayur lilin ola ola. Rasanya sangat enak,” Samsu Rizal bercerita.

Saya terhentak mendengar kata “ola ola”. Dari mana cendekiawan Muslim asal Batak ini tahu ola ola? Saya kemudian sadar: Om Nan orang Galela. Bahasa Galela Om Nan sangat bagus, bahkan jika dibandingkan Bahasa Galela orang-orang Galela yang seumur hidup tinggal di Galela. Istri Om Nan, dan anak-anak mereka, pasti pernah dengar kata ola ola. Ola ola adalah bahasa Galela. Sayur atau ikan yang dimasak pakai santan disebut “ola ola”. Pisang, kasbi, dan beras yang dimasak santan disebut “si dodiigo”.

“Sayur lilin ola ola” yang diucapkan Samsu Rizal dalam gaya bicara orang Batak campur langgam Jawa, membuat telinga saya “geli”. Saya bilang: Sayur lilin itu bahasa Melayu pasaran di Maluku Utara. Sayur lilin punya namanya sendiri di kalangan orang Galela. Ka Acep tahu namanya, kata saya. “Nyong, apa nama sayur lilin dalam bahasa Galela?” tanya Samsu Rizal pada Taufik. Merasa (ter)dijebak, Taufik berkelit. “Saya tidak tahu.” Keduanya kemudian bertanya hampir serempak pada saya: Apa nama sayur lilin dalam bahasa Galela? “Dodilibu,” jawab saya santai.

Alih-alih mengobrol santai seperti dijanjikan Mely, Samsu Rizal malah menjadi serius. Dia bertanya apakah arti lughawi dodilibu sama dengan sayur lilin secara bahasa? Jawaban Taufik membuat kami tertawa. Taufik bilang, “mungkin karena bentuk dan warnanya mirip lilin, jadi orang-orang Maluku Utara menyebutnya sayur lilin. Saya tidak tahu apa arti dodilibu,” lanjut Taufik. Maka, berlagaklah saya pura-pura pintar, menerjemahkan kata dodilibu. Dodilibu berasal dari kata “tilibu”, artinya “bunting”. Pohon dodilibu sama persis dengan tebu. Buah dodilibu keluar dari pucuk atas. Dodilibu kadang bercabang. Buah dari cabang ukurannya lebih kecil dibandingkan buah yang keluar dari pucuk atas. Ujung atas batang atas membesar sebelum buahnya keluar. Keadaan seperti ini disebut “da tilibu”, artinya “dia hamil”. Hal sama juga berlaku bagi padi. Ketika ujung batang atas padi membesar – sebelum buahnya keluar– orang Galela menyebutnya “o’tamo da tilibu”, “padi sudah bunting”.

Sial bagi saya malam itu. Samsu Rizal mengintrogasi saya. “Apakah “tilibu” hanya berlaku pada dodilibu dan padi, atau bertalian dengan hal lain juga? Istilah tilibu berlaku juga untuk perempuan dan hewan. Dodilibu, padi, dan hewan yang hamil disebut” “da tilibu”. Perempuan hamil disebut “ami tilibu”. “Ami” maknanya merujuk pada “dia perempuan”. Bahasa halus perempuan hamil adalah “mo rohe”, arti leterleknya “dia berbadan”.

Dari sayur lilin ola ola yang lezat, obrolan kemudian berkembang menjadi diskusi seru. Samsu Rizal berseru kepada Taufik: “Nyong, ini aneh, dan menarik. Adakah hubungan “tilibu, dodilibu, tamo da tilih, sapi da tilibu, ami tilibu dengan relasi gender dalam rumah tangga?” Pertanyaan Samsu Rizal pada kolega intelektualnya itu membuat saya seakan membeku. Saya tidak menduga Samsu Rizal berpikir sejauh itu. Sambil mengisap asap rokok dalam-dalam, saya menyiapkan alibi – seandainya Samsu Rizal bertanya lagi – saya orang bodoh teori ilmu sosial, jadi cari sendiri jawabannya mengapa orang Galela berpikir seperti itu. Untungnya, Samsu Rizal tidak menginterogasi saya lebih dalam.

Selanjutnya saya hanya menjadi penonton Taufik dan Samsu Rizal berdiskusi soal dodilibu dan relasi gender. Seingat saya, diskusi malam itu mereka mulai dengan kesan Samsu Rizal terhadap hubungan laki-laki dan perempuan yang dia dapati di kamp-kamp pengungsi. Samsu Rizal bercerita, selama penelitian lapangan, saya menangkap kesan para laki-laki – sebagai anak atau  suami – cenderung lebih mendengarkan perempuan. Mertua laki-laki bahkan lebih menaruh hormat pada menantu perempuan, dibandingkan sikap mereka terhadap anak dan menantu laki-lakinya.

Mendengar cerita Samsu Rizal, saya berharap keduanya mengutip ayat Alquran atau hadis Nabi, sehingga saya bisa nimbrung. E…, keduanya malahan menyelam dalam ke kedalaman teori ilmu sosial. Setelah berlayar jauh, dan berselancar dengan teori-teori sosial, Taufik atau Samsu Rizal, mengajukan pertanyaan – yang saya masih ingat secara verbatim: Adakah hubungan antara relasi gender dengan resolusi konflik? Mengapa orang Maluku Utara lebih cepat berdamai setelah mereka terlibat konflik-kekerasan paling berdarah? Saya sudah tidak ingat persisnya detail diskusi malam itu. Tetapi keduanya hampir sepakat: Perempuan tampaknya memiliki peran penting mengapa orang-orang Maluku Utara bisa segera berdamai setelah berkonflik.

Pembicaraan beralih ke mendiskusikan kelakukan orang-orang Islam di Ternate menutup jalan (depan masjid) saat azan dikumandangkan, dan selama salat dilaksanakan di masjid, satu tindakan “keagamaan” yang sama yang dipraktikkan kaum Taliban di Afganistan. Menurut keduanya, gejala seperti itu bersifat sesaat sehingga tidak perlu dirisaukan. Menutup jalan saat azan dan salat di masjid akan hilang seiring waktu perdamaian dicapai.

Taufik dan Samsu Rizal lalu berdiskusi tentang rekonsiliasi pasca konflik-kekerasan. Menurut mereka, konflik kekerasan yang terjadi saat ini – maksudnya saat itu – relatif mudah diselesaikan. Masalah terbesarnya terletak pada bagaimana menanggulangi trauma yang dialami anak-anak muda yang secara nyata paling intens berpartisipasi di ladang peperangan. Seingat saya, Taufik memberi semacam peringatan – seakan-akan mengingatkan saya – bahwa orang Islam dan orang Kristen akan lebih mudah berdamai. Yang sulit dicapai adalah bagaimana anak-anak usia sekolah sekarang menjadi sponsor kehidupan yang damai dalam masyarakat mereka di masa datang. Mereka mengalami trauma yang akut. Jika mereka tidak ditanggulangi dari sekarang, anak-anak ini akan menjadi sumber konflik dan ketidaktertiban sosial di lingkungan tempat mereka tinggal kelak di kemudian hari.

Samsu Rizal memberi wanti-wanti, kebiasaan mengulang-ulang cerita bagaimana mereka terlibat peperangan, dan gejala pengangguran yang mulai muncul, adalah masalah yang mesti ditanggulangi sedari sekarang. Anak-anak muda ini harus diarahkan untuk memiliki pekerjaan yang produktif. Ada gejala menarik mesti perhatian, dan dimanfaatkan menjadi peluang bagi anak-anak muda untuk memiliki pekerjaan produktif, yakni pertumbuhan kepemilikan sepeda motor. Pemerintah daerah harus membuka kesempatan bagi anak-anak muda mengikuti kursus keterampilan keteknikan, sambil membantu modal usaha perbengkelan bagi mereka. Tanpa usaha yang terencana, anak-anak sekarang akan menjadi pengangguran –10 atau dua 20 ke depan. Mereka akan sepak siapa saja yang dianggap menghalangi mereka mengekspresikan kebebasan.

Saya tidak tahu, apakah diskusi santai (tahun 2002 atau 2003) tentang dodilibu, kemudian berkembang serius menjadi wacana ralasi gender, dan terutama diskursus mantan kombatan yang diperkirakan menjadi  generasi pengangguran, sehingga menjadi sumber ketidaknyamanan sosial, sudah terbukti sekarang? Pasca konflik–kekerasan, keadaan sosial di Ternate cenderung makin semrawut kian kemari. Kekerasan di jalanan, menghalau orang dari jalanan menggunakan tongkat bendera putih saat mengantar jenazah ke kuburan menggunakan mobil (bukan ambulance), menjadi hal biasa. Kekerasan lain, menutup jalan raya untuk selamatan naik haji, bisa dibilang menjadi kebanggaan. Siapa mereka yang melakukan kekerasan-kekerasan seperti itu? Saya tidak punya data. Tetapi bisa diperkirakan, mereka kebanyakan anak-anak yang di tahun 2000 menjadi kombatan. Wallahu ‘alam. (*)