Tandaseru – Meningkatnya angka kasus kekerasan terhadap perempuan dan remaja di Maluku Utara memicu keprihatinan serius dari berbagai pihak. Yayasan Rumah Konseling Maluku Utara (Malut) mendesak Pemerintah Provinsi Malut untuk segera merespons situasi ini dengan menghadirkan Sentral Layanan Konseling Terpadu di setiap kabupaten/kota.
Direktur Yayasan Rumah Konseling Malut, Ikhwanul Kiraam J. Saleh, menyatakan kehadiran lembaga konseling hingga ke tingkat daerah merupakan langkah krusial untuk upaya deteksi dini. Hal ini berkaca pada maraknya pemberitaan dugaan pelecehan seksual yang baru-baru ini menimpa lima remaja, serta kasus dugaan pemerkosaan oleh oknum paman terhadap keponakannya di Pulau Morotai.
“Belum lagi kasus-kasus sebelumnya yang masih membutuhkan atensi kita semua. Hal ini memerlukan keseriusan pemerintah daerah maupun lembaga kemasyarakatan dalam melakukan upaya deteksi dini agar tercipta lingkungan yang kondusif dan tentram,” ujar Ikhwanul melalui keterangan tertulisnya.
Menurutnya, intensitas kasus kekerasan dan pelecehan yang menyasar perempuan dan anak telah menciptakan rasa takut, was-was, serta trauma mendalam bagi korban dalam beraktivitas sehari-hari. Kondisi ini dinilai sudah pada tahap yang memerlukan tindakan nyata dari pemerintah provinsi.
Secara kelembagaan, Yayasan Rumah Konseling Malut menawarkan program Sentral Layanan Konseling Terpadu yang melibatkan kolaborasi lintas sektor. Program ini direncanakan akan menghimpun tenaga ahli seperti psikolog dan konselor, serta melibatkan lembaga kemasyarakatan secara aktif.
“Jika Pemerintah Provinsi Malut serius dalam deteksi dini pencegahan kasus seperti ini, maka Sentral Layanan Konseling Terpadu harus hadir di setiap kabupaten/kota,” tegasnya.
Ikhwanul menambahkan, pihaknya siap menindaklanjuti detail teknis program tersebut, asalkan terdapat kepekaan dan respons cepat dari Pemerintah Daerah Provinsi Maluku Utara dalam menangani darurat kekerasan seksual di wilayah tersebut.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.