Ridha pun mengapresiasi dosen pendamping mahasiswa peternakan yang dinilainya memiliki kemauan dan kemandirian dalam mendampingi mahasiswanya.
Meski begitu, pendampingan yang baik ini diharap supaya mahasiswa bisa menjadikannya motivasi dalam melihat prospek yang bisa dikembangkan kedepannya.
Ridha pun mengaku sebagai orang yang pernah bergelut di bidang usaha peternakan ayam, kendala utamanya di Maluku Utara adalah mahalnya pakan.
Menurutnya, hampir semua pengusaha peternakan ayam di Maluku Utara gulung tikar gara-gara pakan yang sangat mahal. Apalagi disaat cuaca yang tidak bersahabat juga ikut berdampak pada harga pakan semakin mahal, disamping suplainya pun didatangkan dari luar daerah.
“Salah satu alternatifnya adalah kita membuat pakan alternatif. Makanya itu kita bisa membeli mesinnya, atau kalau saya lihat tadi dari penjelasan teman-teman dosen, mereka membuat manual dengan mencampurkan beberapa bahan,” kata dia.
Hanya saja, pakan alternatif yang dibuat ini belum terbukti atau diuji pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan berat ternak ayam.
Dari pengalamannya, Ridha menjelaskan, normalnya ternak ayam jika memasuki usia 24-25 hari itu sudah mencapai bobot berat sekitar 1,5-1,6 kilogram.
Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang mengelola tempat praktek peternakan ayam pedaging untuk terus serius belajar mengembangkan bakatnya jika ingin menjadi peternak profesional.
Selain itu, menjadi peternak profesional juga butuh keseriusan, kesabaran, keuletan, dan konsistensi.
“Ini makhluk hidup, keseriusan kita adalah konsisten pada jadwal-jadwal yang sudah diterapkan oleh dosen, standar-standar pelayanan ke ayam-ayam itu juga harus dilakukan, saya pikir itu penting,” tukasnya.
Amatan tandaseru.com, selain meninjau peternakan, Ridha juga membeli 10 ekor ayam pedaging yang telah siap dipanen, disusul sejumlah dosen dan pejabat Unkhair lainnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.