Kedua: Pola Pengajar dan alat bantu, pada pembelajaran ini, pengajar sudah memakai alat bantu, namun tetap pengajar masih aktor utama dalam pembelajaran. Ketiga: Pola pengajar dan Media, pembelajaran ini pengajar sudah menggunakan media untuk mengajar. Sumber ilmu yang diberikan tidak hanya dari dirinya tapi bisa diambil dari sumber-sumber lain, seperti dari televisi, media massa, internet dan lainnya. Di sini pengajar tidak lagi menjadi aktor utama, pembelajaran sudah bergeser paradigmanya dari TCL menjadi Student Centered Learning (SCL), mahasiswa juga aktif untuk mencari sumber ilmu.
Keempat: Pola Pembelajaran Bermedia, pola yang cocok dan relevan di zaman ini. Untuk mengaplikasikan pola pembelajaran bermedia, pengajar (dosen) harus mampu menjadi produsen ilmu pengetahuan. Jika tidak, maka pengajar tidak akan mampu menerjemahkan pola pembelajaran bermedia. Di era digital kekinian, pengajar (dosen) bisa memanfaatkan segala sumber ilmu untuk belajar. Belajar juga bisa dilakukan tanpa harus tatap muka.
Perlu diperhatikan, bahwa dalam proses pembelajaran, terdapat fungsi adaptifnya, mahasiswa harus disiapkan untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangana zaman. Di era digital ini, mahsiswa sudah memiliki gadget dan mereka sering menggunakannya. Jika pengajar tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi tersebut, maka pembelajaran yang disampaikan kurang diminati. Sebaliknya, jika pengajar mampu menjadi produsen ilmu pengetahuan dan mahasiswa bisa memanfaatkan melalui gadget maka tentunya pembelajaran tersebut lebih menarik. Sebagai pendidik marilah kita selalu update ilmu pengetahuan dan keterampilan, saatnya kita menjadi produsen di era digital sehingga generasi muda kita merasa bahwa pengajar jugaa selalu mau belajar.
Peran Teknologi Informasi
Kampus Merdeka Merdeka Belajar, itulah sebuah istilah yang kemudian menjadi program unggulan Mas Menteri Nadiem Makarim dalam pengembangan kurikulum pendidikan saat ini, sekaligus menjadi salah satu kajian menarik kekinian di dunia pendidikan era digital. Dunia pendidikan adalah dunia yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Semua komponen masyarakat mengharapkan kualitas pendidikan yang baik dan mengikuti perkembangan zaman. Teknologi memegang peranan penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama dari sisi pengajaran, hal ini karena Teknologi Informasi digunakan sebagai alat bantu penyelenggaraan kegiatan pembelajaran.
Secara faktual bahwa saat ini para instruktur di berbagai belahan dunia telah dan terus menerus mengaplikasikan penggunaan Teknologi Informasi sebagai bagian integral di dunia pendidikan, yang dikemas dalam pengembangan kurikulum sehingga harus dilaksanakan. Alasan utama mengapa Teknologi Informasi digunakan sebagai alat bantu proses pembelajaran karena kemampuannya untuk dapat menyajikan visualisasi dan grafis bahkan menjembatani komunikasi antara komponen pendidikan secara efektif dan efisien baik didalam maupun diluar kelas, tanpa ada batasan ruang dan waktu.
Bagaimana sebuah kompetensi digital ditumbuhkan dalam lingkungan kampus sehingga menjadi sebuah strategi dan langkah-langkah strategis dalam peningkatan kualitas proses pembelajaran. Pemanfaatan teknologi digital oleh mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam proses mendapatkan informasi, mejadi solusi dan strategi dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ada pada perguruan tinggi khususnya dalam menghadapi era pendidikan modern, sehingga keluar dari permasalahannya, serta dapat memberikan kontribusi besar terhadap tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Dosen memiliki peran yang sangat penting dalam mengadopsi dan mengimplementasikan penggunaan teknologi dan informasi, karena dosen adalah kunci agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Selain itu, perubahan paradigma pendidikan juga menuntut dosen untuk lebih kreatif dan inovatif menemukan metode, materi dan cara penyajiannyasehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan meyenangkan. Sayangnya, masih cukup banyak dosen yang belum optimal memanfaatkan penggunaan Teknologi Informasi dalam proses pembelajaran dan lebih memilih menggunakan metode konvensional seperti hanya berdasarkan buku cetak dan slide presentasi.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.