“Bus tidak bisa keluar dari radius sekolah unggulan. Contoh Daruba, busnya hanya operasi di seputaran Wawama-sekolah unggulan, bolak-balik setiap hari aktivitasnya cuma itu saja. Tidak ada yang lain. Abis antar jemput, bus diparkir karena beli ini pakai duit,” cetus Benny.
Penyerahan bus sekolah ini, sambungnya, sudah dianggarkan langsung dengan biaya servis per tahun.
“Saya tidak menginginkan mobil itu terlambat ganti oli, terlambat ganti ban. Anggaran setahun sekolah unggulan Rp 1 miliar lebih. Kalau sampe oli terlambat diganti, itu sudah keterlaluan. Jadi saya minta itu satu bagian terpenting, tidak bisa dipakai pribadi kecuali acara outbound sekolah ya. Pakai kalau keluar dari radius harus lapor ke Kadis Pendidikan,” terang Benny.
Benny juga menyentil soal kurikulum di sekolah.
“Saya lagi mencoba mensimulasi untuk kurikulum Kabupaten Pulau Morotai dengan standar yang telah ditentukan. Kita sempurnakan untuk mendirikan sebuah kurikulum yang holistik, yang mampu mempersiapkan anak kita ke depan menjadi luar biasa. Jadi substansi kepada semua sekolah unggulan bukan untuk bermewah-mewah, untuk perbaikan megah, tetapi substansi adalah untuk menjemput peradaban perubahan zaman dan situasi tantangan hari ini,” jelasnya.
Menurutnya, menghadapi bonus demografi di Indonesia pada tahun 2020-2035, ini bisa menjadi peluang atau musibah.
“Kalau kita tidak mampu mempersiapkan diri, maka bonus demografi menjadi musibah. Tetapi kalau kita mampu mempersiapkan diri maka bonus demografi merupakan dasar penting dan kita berhasil di dalam era bonus demografi,” tandas Benny.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.