Oleh: Zunaidi Zaman Yakin
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Jayabaya Jakarta
DUNIA saat ini telah memasuki era revolusi industri 4.0. Era ini ditandai dengan penggunaan mesin-mesin outomatis yang terintegrasi jaringan internet. Industri 4.0 diperkenalkan sejak tahun 2011 di Jerman yang juga menjadi momentum penerapan ekonomi digital.
Indonesia telah berkomitmen menerapkan industri 4.0 guna membangun industri manufaktur yang berdaya saing global. Komitmen ini ditandai dengan peluncuran Making Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada awal April 2018 lalu sebagai peta jalan dan strategi Indonesia dalam memasuki era digital yang tengah berjalan.
Pengertian dari industri 4.0 itu adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Revolusi industri 4.0 membicarakan teknologi yang lebih mendalam dan menandai serangkaian pergolakan sosial, politik, budaya, dan ekonomi.
Tujuan utama dari industri 4.0 ini adalah kestabilan distribusi barang dan kebutuhan. Industri 4.0 memungkinkan pendataan kebutuhan masyarakat secara real time, dengan mengirim data tersebut ke produsen. Sehingga para produsen dapat memproduksi dengan jumlah yang tepat sesuai kebutuhan. Tentunya secara ekonomi, hal ini dapat menjaga kestabilan harga, secara bisnis dan hal ini dapat memperluas pasar. Dampak industri 4.0, menurut Murti Ningsih (2019: 06) ada 3 faktor yaitu dampak sosial, dampak ekonomi, dampak politik, tetapi yang paling menonjol adalah dampak sosial karena penggunaan teknologi dan mesin yang dapat menggantikan peran manusia dalam proses industri, sehingga hasilnya banyak pengaguran dan berkurangnya lapangan kerja di dalam industri 4.0.
Keunggulan industri 4.0 yaitu dengan menggunakan teknologi dan informasi digital pada industri perusahaan dapat mengontrol dan mengelola data secara aktual, efisien dan cepat. Dampaknya perusahaan bisa memecahkan masalah dengan cepat, tanpa harus melalui masalah yang besat terjadi dahulu. Karena masalah besar bisa menjadi kendala terganggunya operasi perusahaan tersebut.
Keunggulan sumber daya alam (SDA) Indonesia adalah batu bara, minyak bumi, emas dan nikel sedangkan keunggulan sumber daya manusia (SDM) adalah tenaga kerja, potensi, dan pengetahuan. Tetapi realitanya, ada negara yang dapat dikatakan tidak memiliki sumber daya alam tetapi sangat maju perekonomiannya karena keunggulan sumber daya manusia. Negara itu adalah Jepang dan Singapura. Sebaliknya ada negara yang memiliki keduanya tetapi ternyata tertinggal dan terpuruk perekonomiannya hanya karena sumber daya manusia yang di bawah standar “unggul”. Negara tersebut adalah Indonesia. Memang, di banyak negara yang tergolong dalam kelompok negara berkembang, semua sumber daya tersebut masih laten (masih berupa potensi) dan masih harus dikembangkan
Pengembangan sumber daya manusia Indonesia adalah bagian dari proses dan tujuan dalam pembangunan nasional Indonesia. Oleh karena itu, pikiran-pikiran pembangunan yang berkembang di Indonesia dewasa ini sangat dipengaruhi oleh kesadaran yang makin kuat dalam menghadapi era industri 4.0 yang sedang berlangsung ini. Diharapkan proses membawa keuntungan dan mendorong proses pembangunan nasional. Pada waktu yang bersamaan, bangsa Indonesia juga menghadapi tantangan untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain yang telah lebih dahulu maju. Oleh karena itu, pembangunan bangsa yang maju dan mandiri, untuk mewujudkan kesejateraan, mengharuskan dikembangkan konsep pembangunan yang bertumpu pada sumber daya manusia atas dasar untuk mencapai tujuan pembanguan yang demikian, titik berat pembangunan terletak pada bidang ekonomi dengan kualitas sumber daya manusia. hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Eddy Cahyono Sugiarto (Asdep Humas Kemensetneg), “prioritas kita ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia yang terkonsulidasi dengan baik, didukung anggaran yang tepat sasaran sehingga terjadi peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui peta jalan yang jelas, terukur, dan hasilnya dapat dinikmati oleh masyarakat”.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.