Oleh: Fahmi Djaguna

Sekretaris Umum ICMI Orda Pulau Morotai

_______

PENDIDIKAN adalah jantung peradaban. Pendidikan bukan semata proses transfer ilmu, tetapi fondasi bagi terbentuknya masyarakat yang adil, beradab, dan bermartabat. Ibnu Khaldun (1377 M), dalam Muqaddimah-nya, menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh tingkat pengetahuan masyarakatnya. Sementara Plato (360 SM), dalam The Republic, mengajukan pendidikan sebagai instrumen utama untuk melahirkan pemimpin-pemimpin bijak, mereka yang memahami hakikat kebenaran dan keadilan.
Dua tokoh besar lintas zaman ini seolah ingin menyampaikan bahwa pendidikan bukanlah beban anggaran, melainkan investasi strategis jangka panjang. Namun di tengah realitas fiskal yang sering tidak ideal, efisiensi menjadi kata kunci yang tidak dapat dihindari. Pemerintah daerah, yang harus menata prioritas di tengah keterbatasan anggaran, kerap kali menjadikan sektor pendidikan sebagai objek efisiensi. Salah satunya adalah kebijakan penyesuaian skema beasiswa.

Di Pulau Morotai, Maluku Utara, terjadi dinamika yang unik. Bupati dan Wakil Bupati -Rusli Sibua dan Rio C. Pawane- menunjukkan keberanian dan pandangan jauh ke depan dengan tetap menjadikan pendidikan sebagai prioritas, meskipun dengan pendekatan baru. Mereka tidak membiarkan efisiensi menenggelamkan harapan. Sebaliknya, menata ulang skema beasiswa daerah dengan prinsip keadilan dan relevansi.

Komitmen Rusli-Rio untuk terus memberikan beasiswa bagi mahasiswa di Universitas Pasifik (Unipas) Morotai, sebuah institusi lokal, mencerminkan pendekatan Ibnu Khaldun dalam membangun peradaban dari akar budaya dan wilayah sendiri. Unipas Morotai adalah benteng pengembangan sumber daya manusia Morotai. Menopangnya berarti membangun dari dalam, dari masyarakat yang memahami konteks lokal, lingkungan, dan tantangan spesifik daerah.

Namun Rusli-Rio tidak berhenti di situ. Mereka menyadari bahwa tidak semua kebutuhan daerah dapat dipenuhi hanya dari satu institusi. Maka untuk mahasiswa yang melanjutkan pendidikan di luar Unipas Morotai, dengan merancang skema beasiswa berdasarkan kebutuhan jurusan dan kompetensi yang relevan dengan pembangunan Morotai ke depan. Ini adalah bentuk efisiensi yang cerdas dan adil: tidak sekadar memangkas anggaran, tetapi mengarahkannya agar tepat sasaran dan berdampak strategis.

Dalam kacamata Plato, pendekatan ini selaras dengan gagasan philosopher-king, pemimpin yang menata negara dengan hikmat dan visi panjang. Pendidikan dalam pandangan Plato adalah jalan menuju pembebasan dari kegelapan ketidaktahuan. Maka tidak ada yang lebih penting bagi seorang pemimpin daripada memastikan rakyatnya memperoleh kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan berkontribusi.

Keadilan dalam skema beasiswa bukan berarti semua orang mendapat jumlah yang sama, tetapi setiap orang mendapatkan apa yang dibutuhkannya untuk berkembang. Prinsip ini menjiwai filosofi distribusi beasiswa baru Morotai. Dan daerah perlu merancang skema beasiswa berbasis klaster prioritas: pengembangan pariwisata, pertanian berkelanjutan, energi terbarukan, teknologi informasi, kesehatan masyarakat perlu mendapat prioritas karena bidang-bidang ini menjadi tulang punggung pembangunan lokal.

Di sini, efisiensi berkelindan dengan keadilan: menyaring kebutuhan, memetakan potensi, dan menyalurkan bantuan kepada mereka yang benar-benar akan menjadi agen perubahan. Dengan langkah menata ulang bukan berarti menghapus. Efisiensi bukan berarti mengorbankan harapan. Mari jadikan keputusan ini bukan sebagai titik akhir, melainkan sebagai titik balik untuk membangun sistem beasiswa yang lebih adil, terarah, dan berdaya guna bagi masa depan daerah.

Sebagaimana Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa ketika negara (atau dalam konteks ini, daerah) gagal menumbuhkan pendidikan, namun sedang menyiapkan keruntuhannya sendiri. Sebaliknya, negara yang menanamkan investasi pendidikan secara bijak, walau terbatas, sedang membangun kekuatan masa depan yang kokoh. Sejalan dengan itu, Plato juga menekankan bahwa masyarakat yang terdidik akan membentuk sistem pemerintahan yang sehat dan tahan banting terhadap kekacauan.

Langkah Rusli-Rio patut diapresiasi karena menempatkan pendidikan dalam kerangka strategis, bukan seremonial. Dengan berani mengubah pola lama yang mungkin boros dan tidak terarah, menjadi skema yang terukur, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan nyata. Mereka menjawab tuntutan zaman dengan keberanian dan empati, dua hal yang kerap hilang dalam praktik birokrasi modern.

Dalam dunia yang terus berubah, kebijakan beasiswa tidak bisa statis. Kebijakan beasiswa harus menjadi refleksi dari kebutuhan daerah, arah pembangunan, dan potensi generasi muda. Rusli-Rio telah membuka jalan: membangun pendidikan dari dalam, memperluas akses secara adil, dan mengedepankan efisiensi yang tidak mematikan harapan.

Maka, harapan itu masih ada. Selama ada pemimpin yang mau belajar dari Plato dan Ibnu Khaldun, dan berani mengambil keputusan seperti Rusli-Rio, pendidikan akan tetap menjadi cahaya yang menuntun Morotai menuju masa depan yang lebih cerah. Semoga! (*)